PagiĀ di desa Kawata tidak pernah terburu-buru. Udara dari arah laut bertemu hembusan angin dari hutan Mangoli yang masih hijau.
Di gang-gang kecil antara rumah papan, terdengar suara ember diisi air, ayam yang dilepas dari kandangnya, dan langkah kaki mama- mama yang bersiap ke kebun.
Seperti biasa, saloi dipanggul di punggung, parang diselipkan di pinggang, dan wajah-wajah mereka penuh niat baik menjemput rezeki dari tanah.
Mama Ca melilitkan sarungnya lebih erat sambil menunggu mama Ina dan mama Sofi. āKatong pi lebih pagi supaya tidak panas,ā katanya sembari tersenyum.
Saloi mereka kosong saat berangkat tapi semua tahu bahwa pulang nanti pasti penuh dengan daun ubi, cabe, pisang, dan hasil lain dari kebun.
Jalan ke kebun bukan jalan biasa. Harus melewati sungai kecil, menyusuri tanah yang sedikit mendaki, lalu membelah hutan pala.
Tapi bagi mama-mama di Kawata, jalan itu adalah jalur kehidupan. Di sinilah mereka bisa berbincang panjang tentang anak-anak yang sekolah, harga minyak goreng, dan belakangan ini, tentang tambang.
āKatong dengar kabar, sudah ada sepuluh izin tambang yang keluar. IUP katanya,ā ujar mama Ca pelan, nyaris seperti bisik. Mama Sofi mengangguk, lalu menyahut, āTapi baru survei kan? Belum ada alat berat, belum bikin jalan.
āIya, belum. Tapi kalau sudah ada yang survey , berarti tinggal tunggu waktu. Hutan ini mungkin tidak akan lama seperti ini lagi,ā jawab mama ina.
Suasana jadi agak hening. Tak ada yang langsung bicara. Mereka memotong semak dengan parang, tapi kepala mereka sibuk menerjemahkan kegelisahan yang belum punya bentuk jelas.
Belum ada tambang yang benar-benar masuk, tapi kabar soal survey dan peta-peta yang dibawa orang perusahaan mulai berhembus ke telinga warga.
Di satu sisi, sebagian warga mulai bertanya-tanya siapa tahu tambang bisa bawa kerja, bisa bikin jalan lebih bagus, bisa bangun listrik.
Tapi di sisi lain, seperti mama-mama ini, yang hidupnya dari tanah dan air, berita itu membawa lebih banyak tanya dari pada harapan.
āKatong hidup dari kebun dan laut. Kalau tanah sudah rusak, kalau air sungai sudah keruh, kami tidak tahu harus bagaimana,ā kata mama Sofi lirih.
Bagi mereka, kebun bukan sekadar tempat tanam dan panen. Di sanalah hidup terasa stabil, tenang, dan masuk akal.
Anak-anak bisa makan dari hasil kebun. Mereka bisa bawa hasil panen ke pasar, beli kebutuhan, dan menyekolahkan anak. Kehidupan mereka mungkin sederhana, tapi punya pijakan yang jelas.
Yang membuat mereka gelisah bukan cuma soal tambangnya, tapi juga soal caranya.
Tidak pernah ada pertemuan desa. Tidak pernah ada orang dari perusahaan yang datang menjelaskan.
Mereka hanya tahu dari cerita tetangga atau dari ketua RT yang katanya baru dipanggil ke kantor desa.
āKalau memang ini untuk pembangunan, kenapa kami tidak dilibatkan?ā tanya mama Ca. āKami ini yang tinggal di sini, yang tahu tanah dan sungai, yang hidup dari kebun. Tapi tidak ada yang tanya pendapat kami, “cetusnya.
Perempuan-perempuan seperti mama Ina bukan aktivis LSM. Mereka tidak punya gelar, tidak juga bicara soal āanalisis kebijakanā.
Tapi mereka tahu persis perubahan seperti apa yang bisa menghancurkan hidup yang telah mereka rawat selama puluhan tahun.
Mereka tahu rasanya kehilangan sumber air saat musim kemarau. Mereka tahu suara hutan yang berubah kalau tanahnya sudah dibuka.
āMungkin memang belum ada alat berat,ā kata mama Sofi sambil mengisi saloi dengan daun singkong. āTapi tambang itu seperti api kecil di bawah jerami. Kalau tidak dijaga, bisa besar. Dan kalau sudah besar, susah padam.ā
Perjalanan pulang dari kebun biasanya penuh canda. Tapi siang itu agak sepi. Saloi mereka penuh, tapi hati mereka tak begitu ringan.
Ada hal yang tidak bisa mereka bawa turun dari bukit yaitu kekhawatiran yang belum bisa mereka jawab, dan suara-suara kecil di dalam kepala yang bertanya, apakah semua ini akan berubah?.
Sesampainya di rumah, mereka menaruh saloi di dapur. Anak-anak menyambut dengan gembira karena tahu akan makan sayur segar hari itu.
Tapi di dalam kepala para mama itu, bayangan tambang tidak semudah dikesampingkan. Ia terus mengintip dari balik berita desa dan jalan yang mulai sering dilalui orang tak dikenal.
Malamnya, mereka duduk di teras, minum teh dan berbicara pelan-pelan. āKalau semua ini benar terjadi, apakah kita hanya diam?, ‘ tanya mama Ina.
Mama Ca menggeleng. āTidak, katong harus bersuara. Mungkin dengan cerita dulu, supaya orang tahu bahwa di sini, masih ada hidup yang ingin dijaga, “sebutnya.
Di tengah malam yang sunyi, suara jangkrik bersahut-sahutan. Tapi di hati mama-mama Kawata, mulai tumbuh tekad kecil menjaga saloi, menjaga kebun, menjaga sungai, dan menjaga kehidupan mereka sendiri sebelum semuanya hanya tinggal cerita.
Malam itu, setelah teh habis dan langit benar-benar gelap, mama Ina menatap kebun dari kejauhan.
” Dulu,ā katanya pelan, ācuma dengan pala dan cengkeh, kami bisa sekolahkan anak-anak sampai jadi orang.ā Suaranya tidak tinggi, tapi terasa sampai dalam. Mama Ca mengangguk, mengingat-ingat.
āPala yang bikin Isti jadi sarjana, kan? Anak e mama Ina,ā sahutnya. āIya, dan itu juga yang bikin Tika bisa sekolah di Kesehatan, jadi suster,ā tambah mama Sofi dengan senyum bangga.
Mereka tertawa kecil sambil menyebut satu per satu nama anak-anak desa. āDian jadi guru, Lina juga. Abas sarjana, Nanang jadi tentara. Kalau Ifan sekarang sudah polisi, semua itu dari kebun.
Dari saloi yang kita bawa tiap pagi,ā kata mama Ina, matanya mulai berkaca-kaca.
Tak berhenti sampai di situ, mereka menyebutkan juga Kiman yang sudah S2, Abay, Irlo, Rifandi yang sedang S2 dan Aini yang sudah selesai kuliah, Pik dan Mulyana yang lulus dengan nilai tinggi.
Bahkan Sarnawi yang kini bisa menulis tentang kampungnya, juga Guntur yang sudah sarjana, Sani, Nani, Ati dan bahkan Cano yang kini jadi kepala sekolah.
āIzam pun sudah sarjana, Ari dan Gun jadi tentara dan Anto sekarang jadi bendahara desa,ā gumam mama Ca dengan bangga.
Kisah-kisah itu bukan dongeng, bukan cerita dari koran. Itu nyata, tumbuh dari tanah yang mereka cangkul sendiri.
Dari keringat mama-mama yang setiap hari ke kebun dengan saloi kosong dan pulang dengan saloi penuh.
āBukan emas, bukan tambang. Tapi pala, cengkeh, dan daun-daun yang selama ini jadi pelindung katong semua,ā ujar mama Sofi sambil memandang jauh ke arah hutan.
Mereka sadar, tambang mungkin datang membawa janji. Jalanan mungkin akan diaspal, listrik mungkin akan stabil, dan uang mungkin datang lebih cepat.
Tapi mama-mama itu juga tahu, uang dari tambang tidak akan menumbuhkan pohon pala. Tidak akan bisa mengganti mata air yang mati.
Dan yang lebih penting tambang tidak akan pernah bisa menumbuhkan cerita tentang anak-anak desa yang jadi sarjana dari kebun kecil di pinggir hutan.
āKalo hutan ini rusak, tidak ada lagi anak-anak yang bisa jadi guru dari hasil kebun. Tidak ada lagi Tika lain, Dian lain, Masita lain,ā
āKatong bukan anti pembangunan, tapi katong juga berhak atas kehidupan yang tidak dirusak,ātuturnya.
Malam semakin larut, tapi cerita mereka masih hidup berputar dari satu nama ke nama lain, dari satu pohon ke pohon lain, dari satu saloi ke saloi yang lain.
Dan dalam cerita itu, desa Kawata sebenarnya sedang menyusun sikap bahwa apa yang mereka punya, meski sederhana, sudah cukup.
Dan tidak semua janji pembangunan harus diterima, kalau artinya harus kehilangan rumah, hutan, dan masa depan anak-anak mereka. ***















