banner 468x60
OPINI  

Hari Kesaktian Pancasila, Benteng Ideologi Bangsa di Tengah Arus Zaman

Oleh: Jefri A.S Rette Sekawael (Rakyat Jelata)

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia kembali teringat sejenak, mengenang peristiwa sejarah kelam yang hampir mengguncang fondasi negara.

Hari Kesaktian Pancasila bukan sekedar momentum seremonial tahunan, melainkan refleksi bersama akan pentingnya menjaga ideologi bangsa dari berbagai ancaman.

Peringatan ini lahir dari peristiwa tragis pada tahun 1965, ketika Pancasila sebagai dasar negara berusaha menggantikan ideologi lain yang bertentangan dengan jiwa bangsa Indonesia.

Namun, lebih dari sekedar mengingat sejarah, Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi ruang untuk menegaskan kembali komitmen kita sebagai bangsa: bahwa Pancasila adalah tiang penopang persatuan, identitas, sekaligus kompas moral dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah.

Sejak digagas oleh para pendiri bangsa, Pancasila telah menjadi titik temu berbagai perbedaan.

Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, serta keberagaman agama, hanya dapat bersatu karena ada payung ideologi yang mengikat: Pancasila.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Bung Karno pernah mengatakan: “Pancasila adalah philosofische grondslag, fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atas kita dirikan Negara Indonesia yang kekal dan abadi.”

Lima sila yang terkandung di dalamnya bukan sekedar rangkaian kata indah, melainkan pedoman hidup yang menyatukan seluruh perbedaan menjadi harmoni. Nilai Ketuhanan memastikan setiap warga negara bebas beribadah sesuai keyakinan.

Nilai Kemanusiaan menjunjung tinggi martabat setiap manusia tanpa membedakan status sosial. Nilai Persatuan menjadi energi pemersatu bangsa yang plural.

Nilai Musyawarah demokrasi menjamin kebijaksanaan. Dan nilai Keadilan menegaskan tujuan akhir pembangunan: kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Kesaktian Pancasila lahir bukan karena ia kebal dari ancaman, melainkan karena rakyat Indonesia berkali-kali memilih untuk setia kepadanya.

Meskipun pemberontakan bersenjata yang mengancam eksistensi Pancasila sudah lama berlalu, tantangan ideologi tidak serta merta hilang.

Justru di era globalisasi dan digitalisasi, ancaman itu muncul dalam bentuk yang lebih halus namun berbahaya.

Arus informasi yang tak terbendung di media sosial membawa serta ideologi transnasional, intoleransi, bahkan radikalisme yang mencoba merusak fondasi persatuan.

Hoaks, kebencian, dan polarisasi politik menjadi ancaman nyata yang bisa meretakkan ikatan kebangsaan.

Seperti yang pernah diingatkan Nelson Mandela, pejuang anti-apartheid dari Afrika Selatan: “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.” Pendidikan tentang Pancasila harus menjadi senjata utama bagi bangsa ini untuk melawan ancaman ideologi yang berusaha masuk melalui ruang digital.

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menjadikan Pancasila lebih dari sekedar hafalan di bangku sekolah. Banyak generasi muda yang mengenal sila-sila Pancasila, namun belum tentu memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Presiden ketiga RI, BJ Habibie, pernah berkata: “Kalau bukan kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Kalimat ini sejalan dengan semangat Hari Kesaktian Pancasila: bahwa tugas menjaga ideologi bangsa ada di pundak kita semua, bukan hanya pemerintah.

Hari Kesaktian Pancasila hendaknya tidak berhenti pada upacara dan pidato, melainkan menjadi momentum untuk membumikan nilai-nilainya dalam kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga interaksi sosial di masyarakat.

Indonesia hari ini berada di era bonus demografi, di mana generasi muda mendominasi jumlah penduduk. Artinya, masa depan Pancasila berada di tangan mereka.

Tantangan yang dihadapi generasi muda jauh berbeda dengan generasi sebelumnya lebih kompleks, lebih digital, lebih global.

Di tengah derasnya budaya asing yang masuk tanpa filter, generasi muda perlu menjadi filter sekaligus pelopor dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila.

Kreativitas, teknologi, dan inovasi yang mereka miliki harus diarahkan untuk memperkuat persahabatan, bukan sebaliknya.

Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, pernah berkata: “Jangan tanyakan apa yang negara Anda bisa berikan untuk Anda tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk negara Anda,” Kutipan ini relevan dengan konteks Indonesia hari ini: generasi muda tidak cukup hanya menuntut perubahan, tetapi juga harus mengambil peran aktif dalam menjaga ideologi dan persatuan bangsa.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2025 ini juga berlangsung di tengah suasana politik yang dinamis. Pemilu serentak baru saja digelar, dengan segala dinamika yang menyertainya.

Polarisasi politik yang muncul selama proses pemilu menjadi cermin bahwa nilai persatuan sering kali diuji.

Pentingnya kembali pada Pancasila. Politik seharusnya menjadi arena untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, bukan medan perebutan kekuasaan semata. Musyawarah dan mufakat sebagai nilai Pancasila harus dihidupkan dalam praktik demokrasi, sehingga perbedaan pilihan politik tidak berakhir pada perpecahan bangsa.

Mahatma Gandhi, tokoh perdamaian dunia, pernah menekankan: “Cara terbaik untuk menemukan diri sendiri adalah dengan mengabdi pada orang lain.” Dalam konteks politik Indonesia, para pemimpin sejati adalah mereka yang menyumbangkan kepentingan pribadi demi kepentingan rakyat.

Menghadapi berbagai tantangan zaman, Hari Kesaktian Pancasila 2025 seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ideologi bangsa ini tidak boleh hanya berhenti di ranah seremonial. Ia harus benar-benar hadir dalam setiap aspek kehidupan.

Pancasila harus menjadi napas dalam setiap kebijakan negara, dasar dalam setiap tindakan politik, pedoman dalam pembangunan ekonomi, dan tutunan dalam interaksi sosial masyarakat.

Jika Pancasila hanya menjadi hiasan dinding atau bahan hafalan upacara, maka kesaktiannya akan luntur oleh waktu.

Seperti yang diungkapkan Bung Hatta, proklamator Indonesia: “Pancasila bukan untuk dihafal, tetapi untuk diamalkan.”

Sejarah membuktikan, bangsa Indonesia mampu melewati berbagai ujian karena tetap setia pada Pancasila. Dari masa perjuangan kemerdekaan, era pemberontakan, hingga dinamika global saat ini, Pancasila terbukti menjadi benteng pertahanan bangsa.

Hari Kesaktian Pancasila tahun 2025 ini harus kita maknai sebagai panggilan untuk memperkuat persatuan, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan kembali rasa kemanusiaan.

Perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan modal untuk saling melengkapi.

Selama kita menjaga Pancasila bukan hanya di lisan, tetapi juga di hati dan perbuatan, bangsa Indonesia akan tetap kokoh menghadapi segala ujian zaman.

Atau seperti pesan Nelson Mandela yang patut kita resapi: “Keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut namun menginspirasi orang lain untuk melampauinya.”

Dengan keberanian menjaga Pancasila, kita akan mampu menginspirasi dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang tangguh, bersatu, dan unggul. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page