Klikfakta.id, KEPSUL– Dewan pimpinan Cabang( DPC) Partai demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Kepulauan Sula Maluku Utara, menggelar Konferensi cabang (Konfercab) tahun 2025.
Konfercab tahun 2025, bertajuk “Solid Bergerak, Menyatu Dengan Rakyat Menuju Kemenangan 2029” berlangsung di Aula Beliga Hotel, pada Selasa (9/12/2025).
Dalam konfercab tersebut, M. Ridho Guntoro kembali terpilih sebagai ketua DPC PDI-Pejuangan Kepulauan Sula periode 2025-2030.
M. Ridho Guntoro yang juga merupakan Wakil ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sula ini, sudah menduduki jabatan ketua DPC PDI-Pejuangan sebanyak 2 periode.
Ketua DPC PDI-Pejuangan M. Ridho GuntoroHari kepada Klikfakta.id mengatakan bahwa, ia berdiri di hadapan pengurus DPC maupun PAC bukan hanya sebagai Ketua DPC terpilih.
Akan tetapi sebagai anak negeri yang lahir dari tanah Sula, minum dan menghirup anginnya, serta melihat sendiri luka dan harapan rakyat di tanah ini.
“Setiap kali saya menginjakkan kaki di desa-desa pesisir, saya menatap wajah para petani, nelayan, dan kaum ibu yang berjuang di tengah kesederhanaan, insfratuktur yang masih banyak harus di benahi, pendidikan yang harus selalu di perhatikan, dan kesehatan masyrakat yang harus di utamakan, ” ucapnya.
” engan penuh tanggung jawab yang besar ia hanya punya satu kalimat di dalam hati yaitu, Kasihan Sula. Mari kita benahi Sula. Kalimat ini bukan sekadar slogan, kalimat ini adalah panggilan nurani, panggilan perjuangan dan panggilan sejarah, “.
“Jabatan ini bukanlah hadiah. Jabatan ini adalah amanah yang diberikan Ibu Ketua Umum, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri kepada kita semua, dan ini merupakan tanggung jawab kita bersama-sama, ” lanjutnya.
Ridho berharap, untuk kepengurusan kali ini, kita tidak boleh menjadi pengurus yang hanya hadir ketika pemilu, lalu menghilang ketika rakyat menanti jawaban.
“Kita tidak boleh menjadi pemimpin yang sibuk di podium, tapi lupa pada jeritan rakyat di kampung-kampung, ” pesannya.
Ridho menegaskan bahwa, di awal masa kepemimpinan ini, tidak ada lagi tempat bagi kader yang tidak bergerak, tidak ada ruang bagi mereka yang hanya mencari posisi, bukan pengabdian.
Tidak ada ruang kompromi bagi kader yang tidak disiplin organisasi dan sanksi organisasi akan ditegakkan tanpa pandang bulu bagi kader yang tidak tunduk terhadap perintah partai.
“Kita adalah PDI Perjuangan – partai yang lahir dari rahim wong cilik, partai yang ditempa oleh penderitaan dan ditempah oleh idealisme. Partai yang dibesarkan oleh gotong royong, bukan ambisi pribadi, ” tegasnya.
Selain itu, untuk lima tahun ke depan mesin partai harus hidup dari tingkat DPC sampai Anak ranting.
“Kita akan melaksanakan konsolidasi total tanpa kompromi, pembersihan internal dari budaya malas dan tidak loyal, rekrutmen kader militan yang memahami ideologi dan siap turun ke masyarakat dan digitalisasi gerak partai, termasuk membangun pasukan siber yang kuat, disiplin, dan cerdas, ” sebutnya.
“Kita tidak lagi punya waktu untuk berjalan lambat. PDI Perjuangan harus menjadi kekuatan politik paling siap, paling solid, dan paling dipercaya rakyat Kepulauan Sula, ” sambungnya.
Ia juga meminta kepada seluruh pengurus PDI-Perjuangan Kepulauan Sula untuk jujur pada diri sendiri.
“Sula hari ini belum baik-baik saja. Nelayan masih berhadapan dengan akses pasar yang lemah, anak-anak kita masih berjuang mencari pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan masih banyak menyisakan masalah, dan di banyak desa rakyat menunggu pemerintah hadir secara nyata, ” bebernya.
Ia berharap semua kaders untuk tidak berpangku tangan. Harus berdiri sebagai partai penengah, ketika pemerintah daerah melupakan tanggung jawabnya, tanggung jawab semua pihak agar sebagai pengingat
” Kita memilih untuk berdiri sebagai mitra konstruktif, ketika pemerintah bekerja demi rakyat. Yang jelas, satu hal yang tidak akan pernah kita korbankan adalah kepentingan rakyat, “.
“Pileg 2029 bukanlah pertarungan biasa. Pilkada 2030 juga bukan sekadar pergantian pemimpin, itu adalah momentum mengembalikan masa depan Sula ke tangan rakyat, ” tukasnya
Ia juga berkomitmen mempertahankan dan meningkatkan kursi legislatif. Memperluas basis suara hingga desa-desa terpencil, menyiapkan kader terbaik yang benar benar kader untuk bertarung di eksekutif, menghadirkan kerja politik yang nyata, bukan hanya poster dan baliho.
“Pastinya dalam setiap langkah perjuangan itu, kita membawa satu kompas moral yaitu, mari kita benahi Sula bersama-sama. Jika Sula ingin berubah, maka kitalah yang harus memulainya. Dan jika rakyat ingin bangkit, maka kitalah yang harus mengangkatnya. Jika masa depan ingin dibenahi, maka kitalah yang harus turun menata,”
“Tidak boleh ada keraguan, tidak boleh ada perpecahan, tidak boleh ada langkah mundur, kita bergerak bersama, kita berjuang bersama, kita menang bersama, ” pungkasnya. ***
Editornn : Redaksi
Pewarta  : Sudirman Umawaitina















