banner 468x60

Halteng dan Sula Masuk Daftar Fokus Utama Operasi Keselamatan Kie Raha 2026

Dari 16 Kasus Laka Lantas, 12 Orang Tewas Dalam Kurun Waktu Sebulan

Wakapolda Maluku Utara, Brigjen Pol. Stephen M. Napiun saat memberikan keterangan pers( foto : istimew)

Klikfakta.id, SOFIFI — Tingginya angka dalam kecelakaan lalu lintas di Maluku Utara menjadi perhatian serius Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tercatat 16 kasus kecelakaan yang menewaskan 12 orang.

Kondisi ini membuat wilayah Halmahera Tengah (Halteng) dan Kepulauan Sula masuk dalam fokus utama Operasi Keselamatan Kie Raha 2026.

Operasi tersebut resmi dimulai setelah Polda Maluku Utara menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Mandiri Kewilayahan di Lapangan Apel Mapolda Maluku Utara, Sofifi Senin (02/02) yang dipimpin langsung Wakapolda Maluku Utara, Brigjen Pol. Stephen M. Napiun.

Usai apel, Wakapolda menjelaskan bahwa Polri saat ini menjalankan dua operasi strategis secara bersamaan, yakni Operasi Pekat I yang berlangsung selama 10 hari dan Operasi Keselamatan 2026 yang digelar selama 14 hari.

“Operasi ini merupakan langkah cipta kondisi untuk mengurai potensi gangguan sejak dini, khususnya kecelakaan lalu lintas, menjelang Operasi Ketupat. Tujuannya agar masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujar Stephen.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka fatalitas kecelakaan di Maluku Utara. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan dan harus ditangani secara komprehensif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Ini menjadi perhatian bersama, bukan hanya Polri, tetapi juga pemerintah daerah dan instansi terkait. Kita perlu mengkaji penyebabnya secara detail, apakah karena faktor manusia atau kondisi jalan seperti black spot dan blank spot,” tegasnya.

Wakapolda menegaskan kepada seluruh jajaran Polres agar melakukan langkah mitigasi secara serentak, terutama di wilayah dengan tingkat kecelakaan tinggi seperti Polres Kepulauan Sula dan Polres Halmahera Tengah.

Upaya pencegahan yang lebih masif diharapkan mampu menekan angka korban jiwa.

Dalam pelaksanaan operasi, Stephen juga menekankan agar seluruh personel mengedepankan pendekatan humanis, preemtif, dan preventif. Tindakan represif disebut hanya akan dilakukan sebagai langkah terakhir.

“Kita bersinergi dengan TNI, Jasa Raharja, Dishub, dan pemerintah daerah. Ini adalah operasi kemanusiaan, terlebih bertepatan dengan bulan Ramadan. Tugas ini harus dimaknai sebagai ibadah, meski dijalankan dalam kondisi berpuasa,” ujarnya.

Menutup keterangannya, Wakapolda mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin dalam berlalu lintas, khususnya dengan menggunakan helm, sabuk pengaman, serta mematuhi batas kecepatan.

“Keselamatan harus menjadi kesadaran pribadi, bukan karena ada polisi. Ini demi melindungi hak dan nyawa kita sendiri,” pungkasnya. (sah/red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page