banner 468x60

Aksi Teror Perempuan dan Anak, Densus 88 Malut Sosialisasi Bahaya Radikalisme di SD Negeri 35 Ternate

Klikfakta.id, TERNATE – Tim Satuan Tugas (Satgas) pada Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri melalui Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara menggelar kegiatan road show kebangsaan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 35 Kota Ternate, Sabtu (10/1/2026) sore tadi.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan sosialisasi terkait bahaya penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), serta meningkatkan kesadaran orang tua dan guru dalam rangka mengawasi penggunaan media sosial oleh anak-anak.

Sosialisasi yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIT ini diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari para guru dan orang tua murid SD Negeri 35 dan SD Negeri 36 Kota Ternate.

Tim Pencegahan Satgaswil Maluku Utara yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Briptu Andi Riski Putra dan Briptu Akbar Umaternate. Turut hadir pula Kepala SD Negeri 35 Kota Ternate, Nunung, serta Kepala SD Negeri 36 Kota Ternate, Nurmila Kurung.

Dalam sambutannya, Kepala SD Negeri 35 Kota Ternate, Nunung, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Densus 88 Antiteror Polri atas pelaksanaan kegiatan sosialisasi tersebut.

“Sosialisasi ini sangat penting agar guru dan orang tua memahami cara mencegah paham radikalisme, intoleransi, dan terorisme, terlebih yang menyasar anak-anak melalui media sosial dan game online,” ujar Nunung.

Ia berharap, materi yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat menjadi benteng bagi guru dan orang tua, serta dapat ditularkan kepada lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.

Sementara itu, Briptu Andi Riski Putra dalam pemaparannya menjelaskan tugas pokok dan tanggung jawab Densus 88 Antiteror Polri dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme.

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan ciri-ciri masyarakat dan anak muda yang mulai terpapar paham IRET, serta modus penyebaran radikalisme dan terorisme yang kini banyak memanfaatkan media sosial dan game online.

“Modus baru aksi teror saat ini antara lain melibatkan perempuan dan anak sebagai pelaku, serta menyasar rekrutmen generasi milenial dan anak-anak usia sekolah,” jelasnya.

Ia juga memaparkan sejumlah faktor yang membuat anak rentan terpapar paham radikal, seperti kurangnya perhatian orang tua, menjadi korban perundungan, hingga kondisi psikologis anak yang masih labil dalam proses pencarian jati diri.

“Peran orang tua sangat penting sebagai kunci utama pencegahan, dengan melakukan pengawasan terhadap aktivitas digital anak dan membangun komunikasi yang terbuka,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dan orang tua semakin memahami pentingnya upaya pencegahan serta penanggulangan ekstremisme dan eksklusivisme, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat, guna melindungi anak-anak dari pengaruh paham radikal dan terorisme. (sah/red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page