banner 468x60
OPINI  

Dari Membaca Teks ke Membaca Diri

Oleh : Irfan efendi, MPBI Universitas Muhammadiyah Malang

Irfan efendi, MPBI Universitas Muhammadiyah Malang

Di ruang-ruang kelas, pembelajaran Bahasa Indonesia kerap berjalan rapi dan terukur. Siswa membaca teks, menjawab pertanyaan, lalu menunggu penilaian. Semua tampak tertib.

Namun, di balik keteraturan itu, ada satu hal yang sering luput: apakah siswa benar-benar mengalami proses memaknai, atau sekadar menyelesaikan tugas?

Tidak sedikit siswa yang mampu menjelaskan tema cerpen atau gagasan utama artikel, tetapi kebingungan ketika diminta mengaitkannya dengan pengalaman hidupnya sendiri. Mereka memahami teks, tetapi tidak terbiasa berdialog dengannya.

Bahasa Indonesia pun perlahan kehilangan daya hidupnya, berubah menjadi mata pelajaran prosedural, bukan ruang pemaknaan.

Padahal, Bahasa Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar. Ia bukan sekadar alat uji kompetensi, melainkan medium manusia memahami dirinya dan dunia.

Terlebih bagi remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri, kegelisahan eksistensial, dan kebingungan menentukan arah hidup.

Ironisnya, mata pelajaran yang paling dekat dengan kehidupan justru jarang digunakan untuk membicarakan kehidupan itu sendiri. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara praktik pembelajaran Bahasa Indonesia dan kebutuhan psikologis peserta didik.

Pembelajaran masih didominasi pendekatan tekstual-kognitif, sementara dimensi reflektif dan humanistik cenderung terpinggirkan. Teks diperlakukan sebagai objek analisis, bukan sebagai pengalaman.

Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, manusia dipahami sebagai subjek yang membentuk makna hidupnya melalui kesadaran dan pilihan. Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa manusia tidak dilahirkan dengan esensi yang sudah jadi; manusialah yang memberi makna pada keberadaannya melalui tindakan dan refleksi.

Artinya, manusia bukan sekadar penerima makna, melainkan pencipta makna.

Jika pandangan ini ditarik ke ruang kelas, maka siswa seharusnya diposisikan sebagai subjek pembelajar yang aktif memaknai teks, bukan sekadar pencari jawaban yang benar.

Membaca cerpen tidak berhenti pada menemukan konflik dan amanat, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan reflektif: bagian mana yang paling dekat dengan pengalaman saya? Nilai apa yang saya pertanyakan? Sikap apa yang saya setujui atau tolak?

Pendekatan reflektif dalam pembelajaran menegaskan bahwa belajar bukan sekadar proses menerima informasi, melainkan berpikir kembali atas pengalaman untuk menemukan makna.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, membaca bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga proses batin. Bahasa menjadi jembatan antara teks dan kehidupan.

Sayangnya, praktik pembelajaran masih sering membatasi ruang tafsir siswa. Jawaban yang berbeda kerap dianggap menyimpang dari kunci. Guru, tanpa disadari, menjadi pemilik makna tunggal.

Akibatnya, siswa belajar bermain aman, bukan berpikir jujur. Mereka terbiasa menjawab, tetapi tidak terbiasa menyatakan pendapat.

Di sinilah pentingnya inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis refleksi eksistensial. Pendekatan ini menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar memahami isi teks menuju memaknai relevansi teks dengan kehidupan siswa.

Teks sastra, artikel opini, hingga berita aktual diposisikan sebagai pemantik refleksi, bukan sekadar bahan soal.

Melalui pendekatan ini, siswa dapat diajak menulis refleksi personal, menyusun opini berbasis pengalaman, atau mendiskusikan dilema tokoh dengan realitas hidup mereka sendiri.

Bahasa Indonesia tidak lagi hadir sebagai kumpulan aturan, melainkan sebagai pengalaman berbahasa yang hidup dan bermakna.

Pendekatan refleksi eksistensial juga sejalan dengan pandangan humanistik tentang bahasa. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi sarana pembentukan kesadaran dan identitas.

Ketika siswa diberi ruang untuk menarasikan pikirannya sendiri, mereka belajar bertanggung jawab atas makna yang mereka bangun. Mereka tidak hanya belajar berbahasa, tetapi belajar menjadi subjek yang sadar.

Tentu, inovasi ini tidak meniadakan pentingnya struktur bahasa dan kaidah kebahasaan. Tata bahasa, jenis teks, dan keterampilan membaca tetap penting.

Namun, semua itu menjadi lebih bernilai ketika ditempatkan dalam kerangka pemaknaan. Struktur bahasa tidak berdiri di ruang hampa, melainkan mengabdi pada upaya manusia memahami dirinya dan dunia.

Di tengah tantangan zaman yang ditandai krisis identitas remaja, kecemasan sosial, dan banjir informasi, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran strategis.

Ia dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk berpikir, merasakan, dan menafsirkan hidupnya melalui bahasa.

Sudah saatnya pembelajaran Bahasa Indonesia bergerak dari sekadar membaca teks menuju membaca diri. Dari sekadar memahami kata menuju memahami makna.

Dari sekadar menjawab soal menuju menyusun kesadaran. Di sanalah Bahasa Indonesia menemukan kembali wajahnya, sebagai pelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page