banner 468x60

Pernak-pernik Ramadhan : Momen Penuh Kenangan

Oleh : Mohtar Umasugi, S.Ag., M.Pd.I ( Dosen STAI Babussalam Sula

Ramadhan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ada ketenangan yang menyelinap di antara kesibukan, ada kehangatan yang terasa dalam setiap kebersamaan, dan ada keceriaan yang terpancar dari berbagai tradisi yang menyertainya. Setiap tahunnya, saya selalu menyambut bulan suci ini dengan perasaan yang sama: rindu, haru, dan penuh harapan. Sejak kecil, Ramadhan bagi saya bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga merasakan suasana khas yang hanya ada di bulan ini. Mulai dari suara bedug magrib yang dinanti-nanti, takjil khas yang menggoda selera, hingga shalat tarawih yang selalu menghadirkan keakraban di masjid. Ada sesuatu yang istimewa dalam setiap detailnya, dalam pernak-pernik Ramadhan yang membentuk kenangan. Salah satu yang paling berkesan adalah momen sore hari saya ikut orang tua ke kebun mengambil aneka buah-buahan yang menggugah selera. Di kampung saya, kolak pisang, bubur kacang hijau, bubur labu, dan air kelapa muda menjadi primadona. Ada kebahagiaan sederhana yang terasa begitu istimewa. Lalu, ada juga tradisi membangunkan sahur. Dulu, para pemuda di kampung saya berkeliling dengan membawa pentong dan botol membangunkan warga dengan suara khas mereka. Sekarang, meskipun tradisi itu mulai tergantikan oleh alarm ponsel, tetap saja ada rasa rindu akan suasana sahur yang penuh kebersamaan. Makan sahur bersama keluarga, dengan hidangan sederhana namun penuh keberkahan, selalu menjadi momen yang tak tergantikan. Di siang hari, godaan lapar dan haus memang terasa, tetapi ada ketenangan yang justru semakin terasa. Aktivitas tetap berjalan, namun ada semacam ritme yang melambat, mengajarkan kita untuk lebih sabar dan menahan diri. Bahkan di tengah kesibukan, Ramadhan selalu mengajarkan kita untuk lebih banyak bersyukur. Lalu, ketika senja tiba, ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Momen berbuka puasa, ketika azan magrib berkumandang, menjadi saat yang paling dinanti. Segelas air putih dan pisang goreng serta klade goreng terasa begitu nikmat, jauh lebih dari biasanya. Kebersamaan dengan keluarga di meja makan, meski hanya dengan menu sederhana, selalu menghadirkan kehangatan yang tak ternilai. Dan tentu saja, malam Ramadhan tak lengkap tanpa tarawih. Ada suasana yang berbeda ketika melangkahkan kaki ke masjid, bertemu dengan tetangga, dan bersama-sama melantunkan doa. Bahkan bagi anak-anak, tarawih sering kali menjadi ajang bermain, tetapi justru di sanalah kenangan indah terbentuk. Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan spiritual, pengingat untuk kembali kepada nilai-nilai kesederhanaan dan ketulusan. Ia menghadirkan pernak-pernik yang tak hanya menghiasi hari-hari, tetapi juga menyematkan makna dalam setiap momen. Dan ketika akhirnya bulan ini berlalu, selalu ada kerinduan yang tertinggal, dengan iringan doa semoga kita semua diberi nikmat sehat dan panjang umur kembali menyambutnya di tahun berikutnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page