banner 468x60
OPINI  

Tanpa TNI, Kedaulatan Ini Rapuh. Refleksi 8 Dekade Tentara Rakyat

Oleh: Jefri A.S Rette Sekawael (Rakyat Jelata)

Pada Tanggal 5 Oktober 2025 nanti, genderang sejarah akan kembali ditabuh. Delapan puluh tahun sudah Tentara Nasional Indonesia berdiri tegak menjaga kedaulatan negeri.

Usia yang penuh dengan darah dan air mata, tetapi juga dengan kehormatan dan kebanggaan. TNI bukan hanya barisan prajurit berseragam, melainkan roh perjuangan bangsa yang lahir dari peluh dan penderitaan rakyat.

Sejak awal, TNI tidak pernah tercipta dari kenyamanan, melainkan dari deru pertempuran dan jeritan rakyat yang ingin merdeka.

Ia lahir dari bumi yang dilumuri darah pejuang, dari kepedihan para ibu yang merelakan anak-anaknya, dan dari tekad yang tak pernah padam: mempertahankan Indonesia sampai titik darah penghabisan.

Setiap kali HUT TNI dirayakan, kita disuguhi pemandangan gagah: parade senjata, langkah tegap prajurit, deru kendaraan tempur.

Namun di balik itu semua, ada makna yang jauh lebih dalam—sebuah pengingat bahwa bangsa ini masih berdiri karena ada tentara yang siap berkorban, bahkan dalam kesunyian yang tak pernah tercatat kamera.

Dan di sinilah pertanyaan besar itu hadir: Sampai kapan TNI terus menghadang ancaman yang datang silih berganti? Sampai kapan prajurit rela jauh dari keluarga demi menjaga tapal batas negeri? Dan sampai kapan bangsa ini hanya bersorak di hari perayaan, tapi lupa bahwa setiap hari ada prajurit yang mempertaruhkan nyawanya di garis depan?

Sejarah membuktikan, TNI adalah milik rakyat, bukan milik segelintir penguasa. Bung Karno pernah berkata, “Tentara hanya ada karena rakyat, tentara besar karena rakyat, dan tentara kuat karena rakyat.” Dan Jenderal Besar Sudirman menegaskan, “Tentara yang tidak mendapat simpati rakyat tidak akan bisa menang.” Dua pesan itu menjadi cermin bahwa kekuatan TNI bersumber dari cinta rakyat.

Dari Nduga yang penuh luka hingga Natuna yang bergolak ombaknya, dari pedalaman hingga perbatasan, dari bencana hingga operasi kemanusiaan, TNI selalu hadir sebagai wajah nyata negara.

Mereka bukan hanya penegak kedaulatan, tetapi juga perisai terakhir ketika bangsa ini terancam.

Delapan puluh tahun perjalanan adalah bukti: TNI tidak pernah berhenti mencintai rakyatnya. Namun, sebaliknya, sudahkah rakyat benar-benar mencintai TNI dengan cara yang sama?

Hari ini, HUT TNI ke-80 bukan sekadar pesta kebanggaan, tetapi juga momentum renungan. Bahwa di balik gemuruh meriam dan sorak-sorai perayaan, ada doa yang harus kita titipkan.

Semoga TNI tetap netral, tetap profesional, tetap menjadi benteng terakhir yang tak tergoyahkan. Karena tanpa TNI, kedaulatan ini rapuh; dan tanpa cinta rakyat, TNI akan kehilangan jiwanya.

Selamat ulang tahun ke-80 TNI. Jayalah selalu, wahai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Profesional. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page