DLH dan Satgas Marahai Benahi Tugu Air Nusantara Sambut Porprov Maluku Utara

Pembenahan Tugu Air Nusantara dan Ritual Air Nusantara Pada 19 April 2012 (dok.Klikfakta.id)

Klikfakta.id, HALUT – Pemerintah Daerah Kabupaten Tobelo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Satgas Marahai kembali melakukan pembenahan terhadap salah satu monumen bersejarah di Halmahera Utara yakni Tugu Air Nusantara.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Utara, Yudihart Noya mengatakan, pembenahan Tugu Air Nusantara dilakukan dalam rangka menyambut Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Maluku Utara, dimana Halmahera Utara dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Menurut Yudihart, selain menyambut event olahraga, keberadaan Tugu Air Nusantara juga memiliki nilai sejarah besar bagi masyarakat adat di Indonesia, khususnya di Halmahera Utara.

“Ini bukan hanya sekadar monumen biasa, tetapi tonggak sejarah bangsa. Tugu ini dibangun pada masa kepemimpinan Bupati Halmahera Utara saat itu, almarhum Ir.Hein Namotemo,” ujarnya.

Tugu Air Nusantara sendiri diresmikan pada 19 April 2012 melalui Ritual Air Nusantara sebagai simbol persatuan masyarakat adat Indonesia yang menandai dimulainya Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) IV di Tobelo. Sebanyak 1.669 suku dari seluruh Indonesia ambil bagian dalam Kongres Nasional AMAN IV yang dipusatkan di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. 

Ritual Air Nusantara menjadi salah satu prosesi sakral dalam pembukaan kongres tersebut. Air yang diambil dari berbagai mata air di seluruh daerah di Indonesia dibawa oleh para peserta kongres untuk kemudian disatukan di Monumen Air Nusantara.

Perlu diketahui, air yang diambil dari berbagai mata air di setiap daerah dibawa oleh para peserta kongres untuk kemudian ditumpahkan di Monumen Air Nusantara dengan harapan, persatuan masyarakat adat Nusantara dimulai dengan menyatukan air-air mereka di Tobelo. 

Sementara air dari Tobelo sendiri diambil dari tiga sumber mata air yakni Sungai Molulu di Desa Wangongira, Talaga Biru dan Talaga Lina di Kao Barat. Prosesi adat dilakukan oleh para tetua adat yang membawa air dari empat penjuru mata angin untuk dituangkan ke dalam kolam Monumen Air Nusantara.

Kongres Masyarakat Adat Nusantara IV saat itu dihadiri sekitar 2.000 hingga 2.500 peserta dari berbagai wilayah Nusantara dan menjadi salah satu peristiwa bersejarah bagi perjuangan masyarakat adat di Indonesia.

Tema besar kongres saat itu berkaitan dengan penguatan eksistensi masyarakat adat dalam tata kelola negara dan perlindungan hak-hak adat. Salah satu hasil penting dari KMAN IV adalah lahirnya Maklumat Tobelo, resolusi dan rekomendasi terkait perjuangan masyarakat adat di Indonesia.

Untuk itu, Yudihart berharap masyarakat bersama-sama menjaga dan merawat Tugu Air Nusantara sebagai simbol persatuan adat sekaligus warisan sejarah daerah.

“Karena ini aset sejarah dan kebanggaan Halmahera Utara, maka kami berharap masyarakat ikut menjaga kebersihan dan keindahan kawasan Tugu Air Nusantara,” tandasnya.(Sem/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page