Klikfakta .id, LARAT— Usia 91 tahun bukan sekadar angka bagi Gereja Protestan Maluku (GPM). Di tengah tekanan ekonomi, perubahan sosial, derasnya teknologi digital, hingga persoalan keluarga, GPM Klasis Tanimbar Utara menyerukan penguatan iman, ketahanan keluarga dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam ibadah syukuran HUT ke-91 GPM Klasis Tanimbar Utara yang digelar di Lapangan Temarlolan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Jumat (18/9/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar dr. Juliana Ch. Ratuanak, Ketua DPRD KKT Ricki Laurens Anggito, Sekretaris Sinode GPM Maluku Pdt. H.R. Tupan, M.Th., Ketua Klasis Tanimbar Utara Ny. Pdt. Marta Pikarima Siwabessy, M.Th., serta unsur pemerintah, TNI-Polri, tokoh agama dan perwakilan 31 jemaat.
Ketua Klasis Tanimbar Utara Ny. Pdt. Marta Pikarima Siwabessy, M.Th., mengatakan, perjalanan 91 tahun GPM merupakan bukti penyertaan Tuhan di tengah berbagai tantangan zaman. Karena itu, gereja tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus hadir menjawab persoalan nyata yang dihadapi umat.
Menurutnya, gereja yang tekun bermisi adalah gereja yang bersedia melayani, memulihkan, membebaskan dan memberdayakan. Gereja juga harus mendengar suara mereka yang lemah, masyarakat miskin, korban ketidakadilan, korban kekerasan dalam rumah tangga, korban bencana serta keluarga-keluarga yang rapuh dan ditinggalkan.
“Gereja yang mau mendengarkan—mendengarkan jeritan mereka yang lemah, yang miskin, korban ketidakadilan, korban kekerasan dalam rumah tangga, korban bencana alam, bahkan keluarga-keluarga yang rapuh dan ditinggalkan. Kepedulian kepada mereka adalah misi Gereja,” tegasnya.

Pdt. Marta juga mendorong seluruh perangkat pelayanan gereja memperkuat pelayanan pastoral sekaligus mengembangkan program Keluarga Menanam, Beternak, Memasarkan dan Melaut (KPM). Program tersebut dinilai penting untuk membuka ruang pemberdayaan ekonomi keluarga di tengah peluang pembangunan yang semakin terbuka di Tanimbar, termasuk terkait Blok Masela.
“Ruang pemberdayaan ekonomi keluarga harus dibuka, harus dihidupkan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Sinode GPM Maluku Pdt. H.R. Tupan, M.Th., mengingatkan bahwa 91 tahun perjalanan GPM telah melewati berbagai zaman dan krisis. Dari masa penjajahan, kemerdekaan, konflik sosial hingga era teknologi digital dan banjir informasi, GPM disebut tetap bertahan karena kasih setia Tuhan.
Pdt. Tupan secara khusus menyoroti ancaman terhadap kehidupan keluarga. Ia menyebut judi online, pinjaman online, pornografi dan kekerasan dalam rumah tangga sebagai persoalan yang perlu menjadi perhatian serius keluarga-keluarga GPM.
“Keluarga adalah gereja rumah tangga (Ecclesia domestica) yang dibentuk dan diberkati oleh Allah sendiri,” katanya.
Ia mengajak keluarga menjadikan rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang membangun komunikasi, doa dan karakter. Meja makan, kata dia, harus kembali menjadi ruang bagi orang tua dan anak untuk saling mendengar dan berbicara dari hati ke hati.
Pesan serupa disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar dr. Juliana Ch. Ratuanak. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan berbagai kemudahan kehidupan modern jangan sampai justru membuat masyarakat kehilangan kebersamaan.
“Jika dulu di tengah segala keterbatasan kita bisa bersatu dan bertumbuh, masa sekarang dengan segala kemudahan yang ada, kita justru saling menjauh? Masa kita masih saling baku gontok-gontok? Tidak boleh begitu!” tegas Ratuanak.
Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang kini tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Karena itu, komunikasi antara orang tua dan anak perlu kembali diperkuat dari lingkungan keluarga.
“Mulai dari rumah, mulai dari meja makan itu, mari kita bangun persekutuan yang kuat,” pesannya.
Selain ibadah syukuran, rangkaian HUT ke-91 GPM Klasis Tanimbar Utara juga diisi tarian adat, Mars GPM, laporan panitia, sambutan Ketua Klasis( CD/ red)



















