Klikfakta.id, TERNATE – Paparan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku Utara Irjen Pol Waris Agono dalam rangka kunjungan kerja (Kunker) ke Polresta Tidore dan Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Malut.
Kunker Kapolda ke Polresta Tidore, pada Rabu 28 Mei 2025 didampingi Ibu Ketua Bhayangkari Daerah Maluku Utara dengan menguatkan jati diri polri sebagai pelindung, pengayom dan pelindung masyarakat.
Dalam arahan dan motivasinya ke Polres jajaran di wilayah hukum Polda Malut Irjen Pol Waris Agono menyampaikan harus bersyukur menjadi anggota polri lulusan SILTA dengan penghasilan (Gaji+tunjangan) yang cukup besar.
“Coba anda bandingkan dengan ASN lulusan S-1 yang baru diterima sebagai ASN berapa penghasilan mereka?,” tanya Kapolda Maluku Utara ke Personil Polresta Tidore dan Siswa Pendidikan di SPN Polda Malut.
Menurutnya, saat ini banyak orang masih berjuang untuk menjadi anggota polri, karena sudah jadi harus bekerja baik-baik, bersyukur, kalian semua dinas disini, berapa yang dinas di pulau-pulau terpencil, dan tertinggal, perbanyaklah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pelihara dan jagalah tempat anda bekerja, jaga nama baiknya, jangan meludahi di piring tempat anda makan, sekalipun belum bisa membuatmu kaya, akan tetapi telah membantu hidupmu yang layak.
“Hidup adalah pilihan, menjadi anggota polri pilihan, anda mau memilih mengeluh atau bersyukur juga pilihan, saya memilih banyak banyak bersyukur, karena dengannya Saya bisa bahagia,” katanya.
Ia juga memaparkan tentang kehumasan dan citra polri, internal polri sedang berjuang mengembalikan publik trust, lakukan beberapa program agar polisi dekat dengan Rakyat, dekati menggunakan sikap humanis, jangan arogan dan menyakiti Rakyat.
Bantu orang sebanyak-banyaknya, kalau tak bisa sedikit orang, satu orang, kalaulah masih tidak bisa, kalian semua jangan buat susah orang.
“Humas Polresta Tidore sudah bagus, perlu dipertahankan, dengan konten-konten kreatif lainnya, pesan Kamtibmas yang menghibur, jangan hanya berisi laporan,” ucapnya.
Menurutnya humas harus patroli cyber untuk melihat keluhan-keluhan atau curhat dari warga masyarakat terutama akun IG, Sneck Video, Tiktok dan Twitter, segera tanggapi, lalu menjawab dengan ucapan terimakasih, tindaklanjuti oleh fungsi terkait serta laporkan ke masyarakat lewat akun asal.
“Humas harus berupaya mengembalikan citra polri dengan melarang pungli, arogan, jangan gunakan kekerasan, tidak boleh rekayasa kasus, tetap kedepankan sikap humanis, dan pedoman perkab 01 tahun 2009, tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan Kepolisian,” ucapnya.
Selanjutnya penegakkan disiplin dan pengawasan Bidpropam Polda Malut maupun Propam Polres harus lebih berdaya cepat tanggap atas komplain dari warga, segera dijawab.
Mekanisme reward dan punishment terhadap anggota harus berlaku, anggota yang berprestasi dan dapat apresiasi dari masyarakat agar diberikan reward serta ajukan Har kepada Kapolda atau Kapolri, kalian seharusnya jaga penampilan, perorangan, satuan, dan oprasional.
“Hindari perebutan yang menyebabkan anda dipecat seperti penyimpangan seksual (LGBTQP), Narkoba, jual beli senjata apai, dan amonisi secara ilegal, perjinahan dan perselingkuhan, KDRT (Delik aduan) perebutan pidana, maupun pemerasan atau pungli dalam penerimaan calon anggota polri,” tukasnya.
Untuk itu Kapolda menekankan bahwa menjadi anggota Polri adalah sebuah kehormatan yang tidak dimiliki semua orang.
“Profesi ini adalah pilihan mulia, jangan anda sia-siakan dengan perilaku yang mencoreng institusi,” pungkasnya.
Kapolda juga mengingatkan soal praktik pungutan liar, arogansi kekuasaan, kekerasan yang berlebihan, hingga rekayasa kasus dan meminta anggota mengedepankan pendekatan humanis dan menjadikan Perkap Nomor 1 Tahun 2009 sebagai pedoman.
“Propam harus aktif merespons keluhan masyarakat, jangan tunggu setelah viral baru bertindak,” tegasnya.
Ia menyoroti pentingnya membangun kepercayaan publik melalui program-program seperti Jumat Curhat dan Minggu Kasih, sebagai forum mendengar langsung aspirasi warga, jajaran merangkul kelompok-kelompok yang kerap berseberangan dengan pendekatan dialogis.
Dalam konteks penegakan hukum, Irjen Pol. Waris menegaskan pentingnya profesionalisme penyidik dan transparansi dalam proses penyidikan, termasuk dalam pengambilan keputusan penghentian perkara.
“Semuanya harus mengacu pada Perkap Nomor 6 Tahun 2019,” ujarnya.
Mantan Wakapolda semarang ini juga menyoroti dinamika sosial di Maluku Utara yang seiring masuknya investasi tambang, dengan mengingatkan pentingnya pendekatan pencegahan konflik berbasis tokoh lokal.
“Ada tiga tahap dalam penyelesaian konflik: cegah, hentikan, dan pulihkan,” tandasnya.
Irjen Pol. Waris menitipkan lima pesan utama: tegakkan hukum dengan adil, jaga kekompakan, hadapi tantangan dengan tanggungjawab, bekerja dengan nurani, dan jangan bermain-main atas anggaran negara. ***
Editor : Redaksi
Pewarta : Saha Buamona













