Aktivis Halut Bersuara: Mengawal Aspirasi, Menjaga Kondusifitas NHM dan Masyarakat

Samuel
Yosafat Kotalaha Sekertaris GAMKI Halut

Klikfakta.id, HALUT– Hubungan NHM dan masyarakat lingkar tambang telah berlangsung dalam perjalanan panjang, dengan berbagai kontribusi, interaksi, dan tantangan. Karena itu, ketika
muncul persoalan mengenai tuntutan pembayaran vendor, pelaksanaan PPM, hingga tunggakan gaji.

Sekertaris Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Halmahera Utara Yosafat Kotalaha mrngatakan, persoalan tersebut harus dilihat secara utuh dan kepala dingin, dengan
tetap memperhatikan kepentingan masyarakat maupun kondisi perusahaan.

Menurutnya sebagai bagian dari organisasi kepemudaan yang tumbuh bersama masyarakat, Yosafat berharap masyarakat semakin sejahtera dan daerah terus berkembang.

Untuk itu berbagai kontribusi NHM melalui program PPM di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, infrastruktur, dan sosial juga patut diapresiasi.

“Berbagai persoalan yang ada tentu harus tetap dikritisi dan diselesaikan. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kontribusi NHM yang selama ini dirasakan
masyarakat. Keduanya harus kita lihat secara proporsional,” ujar Yosafat.

Dia menambahkan, kontribusi tersebut bukan berarti menghapus persoalan yang masih ada. Namun, upaya NHM untuk tetap hadir di tengah masyarakat, terutama dalam proses
pemulihan dan menjaga keberlangsungan perusahaan, merupakan hal yang perlu dihargai.

Penyelesaian berbagai persoalan tentu membutuhkan waktu, komunikasi, dan
dukungan dari berbagai pihak. Di sisi lain kata dia, masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, termasuk terkait pembayaran, PPM, maupun hak-hak yang belum terselesaikan.

Namun kritik dan tuntutan merupakan bagian dari proses perbaikan, tetapi akan lebih baik jika disampaikan dengan tetap membuka ruang dialog dan menjaga kondusifitas daerah.

“Kita tidak boleh menutup ruang bagi masyarakat untuk bersuara. Tetapi mari kita pastikan aspirasi itu disampaikan dengan cara yang baik dan konstruktif, sehingga tujuan akhirnya adalah penyelesaian, bukan semakin memperlebar persoalan,” kata
Yosafat.

Lanjut dia, persoalan yang ada melibatkan banyak kepentingan. Masyarakat membutuhkan keberlanjutan program, pekerja menunggu kepastian hak, vendor
membutuhkan penyelesaian kewajiban, sementara perusahaan juga perlu menjaga keberlangsungan operasionalnya.

Karena itu, seluruh pihak perlu melihat persoalan secara proporsional dan tidak saling mempertentangkan.
Sebagai bagian dari organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, Sekretaris GAMKI Halut ini memilih posisi yang konstruktif dengan tetap kritis terhadap hal yang perlu diperbaiki, tetap menghargai kontribusi yang telah diberikan.

“Apresiasi terhadap NHM
bukan berarti mengabaikan aspirasi masyarakat, sebagaimana kritik terhadap perusahaan juga bukan berarti menafikan seluruh kontribusinya,” tegas Yosafat

Btyk itu dia berharap, bukan siapa yang menang atau kalah, melainkan NHM yang semakin baik, masyarakat yang semakin sejahtera, hak-hak yang dapat
diselesaikan, serta hubungan perusahaan dan masyarakat yang tetap terjaga. Untuk mencapainya, dibutuhkan keberanian untuk bersuara sekaligus kebijaksanaan untuk mendengar dan mencari jalan keluar bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *