Klikfakta. id, TERNATE– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Ternate, Maluku Utara tengah menyelidiki penyebab penemuan tiga mayat laki-laki pada akhir tahun 2024 dan awal Januari 2025 yang menggegerkan warga Kota Ternate.
Tiga mayat tersebut diantaranya berinisial HY alias Hasan (74) Warga Kelurahan Kastela Kota Ternate, serta THS alias Tito Herryanto Sanger (32), dan JS alias Josep Salakay atau Koce (53) Warga asal Manado, Sulawesi Utara.
HY diketahui ditemukan meninggal dunia dalam posisi tengkurap didalam kali mati perbatasan antara Kelurahan Jambula dan Kastela, Kota Ternate pada 22 Desember 2024 sekira pukul 17:35 WIT lalu.
Sementara THS (32) diketahui selaku staf BPJS Kesehatan Kota Ternate, Maluku Utara yang ditemukan meninggal di kamar kos milik Riski Putra di Kelurahan Salahuddin, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate pada Selasa, 7 Januari 2025, sekira pukul 09:00 WIT,
Kemudian JS ditemukan meninggal dunia disebuah kos-kosan di Kelurahan Bastiong Talangame, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, dalam posisi tergeletak diatas sofa pada Rabu 08 Januari 2025.
Namun terkait dengan kematian HY polisi terus menyelidiki dengan intens memeriksa sejumlah saksi, karena desakan dari pihak keluarga Hasan yang diduga meninggal lantaran dianiaya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Ternate, IPTU Bondan Manikotomo mengatakan terkait dengan meninggalnya HY, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi dan selanjutnya tinggal menunggu jadwal autopsi tim Forensik yang didatangkan dari Jakarta.
“Untuk kasus ini saksi kurang lebih 7 orang yang sudah kami periksa. Kita juga menyurat melalui tim Dokkes untuk pengajuan autopsi tapi belum dapat jadwalnya, mungkin minggu depan paling cepat,” ujar Bondan yang dikonfirmasi Klikfakta.id pada Jumat 17 Januari 2025 diruang kerjanya.
Sementara THS asal warga Sulawesi Utara yang ditemukan awal 2025 atau pada 7 dan 8 Januari, dalam waktu yang tidak begitu lama untuk prosesnya tak lagi dilanjutkan penyelidikannya atau telah dihentikan.
“Korban THS itu keluarganya datang dari manado ambil mayatnya untuk dikebumikan, dan tidak lagi membuat laporan, sehingga proses kita hentikan,” katanya.
Dan untuk JS keluarganya juga datang dari Manado sudah kurang lebih seminggu langsung mengambil mayat korban untuk dimakamkan, dan tidak lagi melaporkan sehingga dihentikan.
“Tadi penyidik menyampaikan keluarga tidak mau buat laporan jadi atas dasar memang tidak ada laporan. Dan kebetulan yang terlibat masih anak – anak jadinya kita pilih untuk hentikan,” tukasnya.
Ia bahkan membenarkan adanya dugaan pengeroyokan terhadap korban yang merupakan buruh di pelabuhan Semut Ternate tersebut, sebelum ditemukan meninggal di Sofa oleh seorang penghuni kos yang awalnya mengira korban hanya tidur, ternyata sudah meninggal setelah di cek.
“Tapi memang saat (dikeroyok) itu korban belum meninggal karena korban masih bisa pulang ke kos yang diantar sama satu saksi dan pacarnya, kemudian katanya mau tidur ditidurkanlah diruang tamu kos, ternyata paginya sudah meninggal dunia,” pungkasnya. ***
Editor : Armand
Penulis : Saha Buamona













