Klikfakta.id, HALTENG — Salah satu oknum anggota DPRD Halmahera Tengah Sadri Kobul diduga menghina dan mengancam Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman bersama Bupati Kabupaten Halmahera Tengah Ikram Malan Sangaji.
Dugaan ancaman terhadap Kapolda Maluku Utara dan Bupati Halmahera Tengah melalui pesan grup whatsApp milik anggota DPRD Halmaherah Tengah yang mencuat ke publik setelah viral.
Dalam tangkapan layar percakapan beredar, anggota DPRD Sadri yang juga ketua PAN Halmahera Tengah diduga mengeluarkan amarahnya karena tidak terima jika dua alat berat miliknya diganggu atau disita jajaran Polda Maluku Utara.
“Kapolda yang baru ini macam-macam ee, Alat gua mau disita Kapolda miskin itu. Dasar celengan rakyat. Masa di blek lis kita punya Ekskavator (exsa) dua itu,” tulis akun yang diduga milik Sadri Kobul didalam grup whatsapp DPRD Halteng.
Tak hanya itu, dugaan penghinaan, Sadri juga diduga mengeluarkan perkataan bernada ancaman kekerasan terhadap Kapolda Maluku Utara.
“Dia (Kapolda-red) pasti kita potong pa. Kapolda yahnnam ini sangka pake depe moyang pe doi kapa,” tulisnya.
Dalam percakapan yang sama beredar juga foto dengan memperlihatkan Sadri diduga sedang memegang dua sebilah parang.
Lebih parahnya lagi Sadri diduga mengancam anggota DPRD Kabupaten Halmahera Tengah lainnya serta Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji.
“Ngoni samua DPRD ck… Bupati jahannam itu e, natang ini, Kita datang potong ngoni samua lapis dengan Bupati lagi. Dasar koruptor, DPRD ngoni itu cuma tau makan dan bera saja, binatang ni, sapa yang bisa tantang saya baku potong taftar sekarang,” tulisnya.
“Saya lebe bae mati hari ini, itu sama seperti mati esok pagi, saya siap baku potong kalo ngoni pimpinan tara hargai anggota. Torang ini sama-sama di pilih oleh rakyat,” lanjut tulisnya.
Terpisah Sadri Kobul yang dikonfirmasi melalui via telpon whatsapp terkait hal tersebut, pada Selasa (21/7/2026) mengatakan bahwa bahasa potong dalam politik artinya memotong jaringan jaringan yang dimiliki Kapolda Maluku Utara di Jakarta.
“Coba artikan baik-baiklah, karena kita ini politisi begitu, bukan saya mau potong dengan parang, begitu maksud saya, karena seya juga bilang Kapolri Listyo Sigit, nah itu maksud saya,” ujar Sadri.
Ketika disentil soal pernyataannya didalam grup whatsapp terkait Ekskavator amiliknya apakah sudah di blek lis atau belum? Ia mengaku, ada orang yang diduga dari Polda pernah menegur beberapa kali di wasilei, tapi tidak apa-apa.
“Semua saya telpon orang lapangan, tidak apa-apa, artinya kami juga paham, mereka ini kan petugas juga, jadi tidak masalah sepanjang koordinasi untuk sekedar bercerita itu boleh, karena kami yang punya usaha pasti mengerti,” katanya.
Sementara terkait dengan foto-foto yang viral di berita memegang parang itu maksudnya apa, karena saya ini punya catatan sejarah.
“Saya punya moyang-moyang di Halmahera Timur itu juga berlaku sebagai panglima perang bersama Sultan Tidore, artinya Sultan Tidore bisa jadi Sultan berkat siapa, kitorang (Kami) ini orang Maba begitu,” ucapnya.
Menurutnya fotonya dengan parang itu sebagai pelajaran kalau dirinya anak negeri jajahan pada jaman itu, yang mempunyai Sultan, itu sejarah Kesultanan, jadi parang menggambar satu itikad baik sebagai nasehat, bahwa orang Jailolo, Ternate, Tidore, Bacan awalnya dipimpin oleh Sultan sebelum lahirnya negara.
“Jadi parang itu bukan hanya sebagai alat untuk membunuh, dan secara pribadi saya sampaikan permintaan maaf kepada Bapak Kapolda Maluku Utara, Saya juga akan bersilaturahmi sebagai mitra, karena saya mau urus izin di Polda juga,” pungkasnya.
Ia juga menyatakan mekanisme alat berat ada regulasi baru tentang perizinan operasi, namun secara tiba-tiba ada teman yang mengirim pesan karena mau buat berita, dengan nada hati-hati dengan ekskavator-ekskavator kalian, katanya ada peraturan baru tentang izin operasional alat berat.
“Sementara saya punya ekskavator itu kan banyak, kalau begitu saya harus telpon saya punya orang-orang, kan ada dua di wasilei sana, dan di patani, semua ada 8, tapi bukan saya beli menggunakan doi DPRD, itu pakai harta saya,” tambahnya.
Dia juga menanyakan, Bupati baru ini mau campur-campur barang apa, kan begitu, ada benar bahasa kata potong, itu artinya memotong jaringan-jaringan mereka di Jakarta. (sah/red)













