Dari Jembatan Hanyut ke Jembatan Harapan: Brimob Polda Malut Bangun Akses di Halut

Dok, Humas Polda Malut

Klikfakta. id, HALUT — Derasnya hujan yang mengguyur Desa Salube, Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, pada beberapa bulan lalu menyisakan luka sangat mendalam bagi warga.

Pasalnya jembatan kayu yang sederhana itu dibangun secara swadaya, satu-satunya akses menuju seberang sungai, termasuk ke tempat pemakaman umum hanyut diterjang banjir besar. Sejak saat itu, akses warga terputus dan kekhawatiran terus menghantui.

Keadaan menjadi sorotan publik setelah sebuah video viral memperlihatkan momen memilukan: karena warga harus turun ke sungai, bergantian menggotong jenazah menembus derasnya arus demi mengantar ke peristirahatan terakhir.

Video tersebut menggugah empati luas dan juga membuka mata banyak pihak akan kondisi nyata masyarakat di wilayah terpencil.

Merespons situasi itu, Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Waris Agono mengeluarkan perintah tegas kepada jajarannya agar segera turun tangan membangun jembatan permanen yang aman bagi masyarakat.

Atas arahan tersebut, personel Satuan Brimob Polda Maluku Utara diterjunkan langsung ke Desa Salube

.Kabidhumas Polda Maluku Utara Kombed Pol. Wahyu Istanto Bram W menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini bukan semata-mata reaksi atas viralnya video, akan tetapi wujud komitmen Polri dalam menghadirkan solusi yang nyata bagi masyarakat.

“Awalnya masyarakat hanya memiliki jembatan kayu hasil swadaya. Namun telah hanyut, karena diterjang banjir, dan akses benar-benar terputus,” ujar Wahyu Senin (2/3/2026).

Ia menegaskan bahwa perintah Bapak Kapolda Maluku Utara jelas, harus dibangun jembatan permanen yang kokoh agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebanyak 17 personel Satbrimob Polda Maluku Utara bersama warga Desa Salube bergotong royong membangun jembatan beton sepanjang kurang lebih 12 meter dengan lebar 3 meter.

Material batu dan pasir dikumpulkan dari sekitar lokasi, sementara tiang-tiang jembatan dicor dengan konstruksi dirancang untuk mampu menahan derasnya arus sungai saat musim hujan dan banjir.

Kini, Jembatan Merah Putih telah berdiri kokoh dan resmi dimanfaatkan masyarakat. Anak-anak sekolah tak lagi was-was menyeberang saat hujan turun, petani lebih mudah mengangkut hasil kebun, dan keluarga yang berduka tak perlu lagi mempertaruhkan keselamatan.

“Jembatan ini adalah simbol kepedulian dan gotong royong. Bukan hanya beton yang berdiri, tetapi juga harapan dan rasa aman bagi warga,” tutup Kabidhumas.

Dari jembatan kayu yang hanyut terbawa banjir, kini berdiri jembatan permanen menghubungkan bukan hanya dua sisi sungai, tetapi juga duka masa lalu dengan masa depan yang lebih aman bagi Desa Salube.

Polda Maluku Utara berharap, rampungnya pembangunan jembatan ini menjadi titik awal kemajuan yang lebih luas bagi Desa Salube, karena di atas jembatan inilah masyarakat melangkah menuju kehidupan yang lebih aman dan sejahtera. (sah/red) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page