Aktivitas Galian C di Toloko Ternate Ancam Pemukiman Warga

Polres dan DLH Diminta Bertindak

Saha Buamona Klikfakta.id
Aktivitas penggalian dan pengerukan tanah yang dilakukan di sekitar permukiman menimbulkan keresahan dan debu yang masuk rumah warga ( foto : istimewa)

Klikfakta.id, ‎TERNATE — Warga RT 02/RW 01 Lingkungan Toloko, Kelurahan Sangaji Utara, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, mendesak Polres Ternate, Maluku Utara dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate menertibkan aktivitas galian C setempat. 

Pasalnya  aktivitas penggalian dan pengerukan tanah yang dilakukan di sekitar permukiman menimbulkan keresahan dan debu yang masuk rumah warga.

Kondisi tanah di lingkungan tersebut juga dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama saat hujan deras.

‎Salah satu warga mengungkapkan, aktivitas tersebut membuat masyarakat harus menutup pintu rumah hampir setiap hari akibat debu dari aktivitas galian C. 

Warga bahkan mempertanyakan tanggung jawab pemilik lahan terhadap dampak yang ditimbulkan dari aktivitas pengerukan.

‎“Setiap hari abu, tong (kami) cuma tutup pintu. Terus Ngana (Kamu) bilang tanggung jawab itu melawan sekali (sangat membahayakan),” keluh warga,Jumat (21/8/2026).

‎Warga menyebut pemilik lahan bernama Ais yang menurut mereka, rencana pengerukan tanah hingga kedalaman sekitar dua sampai tiga meter dikhawatirkan dapat mengubah aliran air di kawasan tersebut.

‎Warga yang tinggal di sekitar lokasi mengaku khawatir karena tidak mengetahui secara pasti ke mana aliran air akan mengarah setelah proses pengerukan dilakukan.

‎“Kalau mereka gusur dua sampai tiga meter dari atas, kemudian air keluar, dorang tidak tinggal disini jadi tidak tahu posisi air keluar dari mana. kami yang tinggal disini menanggung risikonya,” ujarnya.

‎Kekhawatiran juga semakin meningkat karena kondisi jalan dan lingkungan sekitar disebut telah menjadi jalur aliran air ketika hujan. Warga takut apabila terjadi hujan yang deras, air dapat mengalir ke permukiman dan menyebabkan banjir.

‎“Kalau hujan, air keluar dan banjir, sasarannya kami. Musibah datang tidak bilang-bilang. Torang di sini sekarang was-was,” katanya.

‎Tak hanya ancaman banjir dan longsor, warga juga mengaku sejumlah bagian rumah mengalami keretakan yang diduga berkaitan dengan aktivitas pengerukan di sekitar permukiman.

‎“Kaca rumah juga sudah retak. Memang itu tanah mereka, tapi ada torang juga yang tinggal di sini. Torang jaga keselamatan torang semua,” tegas warga.

‎Aktivitas pengerukan di lokasi tersebut bukan kali pertama menimbulkan persoalan. Sebelumnya, pengerukan untuk material timbunan juga pernah dilakukan dan sempat dilarang untuk dihentikan.

‎Namun, setelah aktivitas tersebut berhenti, warga kembali melihat adanya rencana pengerukan lahan dengan alasan pemilik hendak menjual tanah tersebut.

‎Warga tidak mempersoalkan apabila pemilik ingin menjual tanah miliknya. Namun, mereka meminta seluruh aktivitas dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

‎“Kalau mau jual, jual saja. Tapi bapikir (pikirkan) keselamatan warga juga. Kalau ada apa-apa, ngana (kamu) di sana tidur enak-enak, terus torang di sini bagaimana? Bukan cuma torang, ada warga lain juga yang terdampak,” ungkapnya.

Persoalan tersebut  telah  disampaikan  kepada Ketua RT setempat. Namun, laporan tersebut disebut belum mendapat respons yang diharapkan.

‎Kondisi itu kemudian memunculkan dugaan di tengah warga bahwa persoalan tersebut tidak ditindaklanjuti karena adanya komunikasi atau kerja sama antara pihak tertentu dengan pemerintah kelurahan.

Meski demikian, dugaan tersebut masih merupakan pernyataan warga dan perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.

‎Warga berharap Polres Ternate bersama DLH Kota Ternate segera melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas galian tersebut, termasuk memastikan legalitas kegiatan, dampak lingkungan, serta aspek keselamatan warga yang bermukim di sekitar lokasi.

‎Masyarakat menegaskan, mereka tidak ingin menunggu sampai terjadi bencana baru kemudian pemerintah turun tangan.

‎“Jangan tunggu ada korban atau banjir baru datang periksa. Torang cuma minta keselamatan warga diperhatikan,”tukasnya.(sah/red) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page