Klikfakta.id, TERNATE — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) Ternate, Maluku Utara menggelar Manifesto FIB UNKHAIR 2026 yang berlangsung di Benteng Oranje, Kota Ternate, Minggu (16/8/2026).
Mengusung tema “Seni sebagai Instrumen Jalan Juang dan Jalan Pulang”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa FIB UNKHAIR untuk mempertemukan seni, kebudayaan, gagasan, dan pengalaman sosial dalam satu rangkaian kegiatan.
Manifesto diawali dengan talkshow kebudayaan bertema “Kebudayaan sebagai Ruang Kritik dan Perubahan Sosial”.
Talkshow menghadirkan Anggota DPRD Kota Ternate, Nurlaela Syarif, Dr. Syahrir Ibnu dari akademisi FIB UNKHAIR, M. Rizal Rizki Ramli, Kabid Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Ternate; dan M. Andinsyah Kamu, mantan Ketua BEM FIB UNKHAIR 2024–2025.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk melihat kebudayaan lebih kritis dan tidak ditempatkan sebagai warisan yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai realitas sosial yang terus bergerak, mengalami perubahan, dan berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat.
Dalam konteks mahasiswa FIB, cara pandang tersebut penting untuk membangun kesadaran bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagian dari realitas yang perlu dibaca, dipahami, dan dikritisi.
Setelah talkshow, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni atau panggung ekspresi mahasiswa baru FIB UNKHAIR.
Panggung tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengambil bagian dalam praktik kebudayaan melalui seni.
Kehadiran mahasiswa baru juga menjadi bagian dari proses regenerasi. Mereka tidak hanya hadir sebagai penerima pengetahuan, tetapi memiliki ruang untuk memproduksi ekspresi, gagasan, dan karya.
Bagi BEM FIB UNKHAIR, mempertemukan talkshow dan panggung ekspresi merupakan salah satu terobosan dalam pelaksanaan agenda kemahasiswaan.
Diskusi tidak dibiarkan berhenti sebagai pertukaran gagasan, sementara seni tidak ditempatkan sebatas hiburan.
Keduanya dipertemukan sebagai dua bentuk ekspresi mahasiswa: gagasan yang dipertajam melalui diskusi dan pengalaman yang diterjemahkan melalui karya.
Ketua BEM FIB UNKHAIR, M. Tamhier Tamrin, mengatakan, Manifesto lahir dari kebutuhan untuk memperluas ruang mahasiswa dalam memahami sekaligus mempraktikkan kebudayaan.
“Manifesto ini kami hadirkan bukan sekadar untuk membuat sebuah kegiatan seni. Kami ingin membuka ruang di mana mahasiswa dapat berpikir, berdiskusi, kemudian mengekspresikan apa yang mereka pikirkan melalui karya. Bagi kami, seni tidak cukup hanya dinikmati, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membaca realitas dan menyampaikan kegelisahan sosial,” ujarnya, Senin (17/8/2026).
Menurut Tamhier, pelaksanaan Manifesto memberikan manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam memperluas ruang partisipasi, mengembangkan kreativitas, melatih keberanian menyampaikan gagasan, serta membangun interaksi lintas angkatan dan organisasi.
Sementara bagi mahasiswa baru, panggung ekspresi menjadi ruang untuk mengenal kehidupan FIB melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas seni dan kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Tamhier juga menyampaikan apresiasi kepada ketua dan pengurus HMJ, ketua dan pengurus UKM, serta seluruh panitia Manifesto FIB UNKHAIR 2026 yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan.
“Terima kasih dan apresiasi kepada ketua dan seluruh pengurus HMJ maupun UKM yang ikut bergerak bersama. Begitu juga kepada seluruh panitia yang telah bekerja sejak persiapan sampai pelaksanaan, ” jelasnya.
” Sebuah agenda tidak akan pernah selesai hanya dengan gagasan. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja, meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran. Apa yang kita lihat hari ini adalah hasil dari kerja kolektif,”lanjutnya.
Ia menilai keterlibatan HMJ, UKM, dan panitia menunjukkan bahwa kehidupan kemahasiswaan di FIB tidak dapat dibangun secara sektoral.
Kolaborasi antarlembaga mahasiswa diperlukan agar ruang-ruang akademik, kebudayaan, dan kreativitas dapat berkembang secara lebih terbuka dan partisipatif.
Manifesto FIB UNKHAIR 2026 pada akhirnya diarahkan untuk memperluas pemaknaan terhadap seni dan kebudayaan.
Seni tidak hanya diposisikan sebagai tontonan, sementara kebudayaan tidak cukup diperlakukan sebagai sesuatu yang sekadar dirayakan.
Keduanya dapat menjadi ruang pendidikan, refleksi, kritik, sekaligus produksi gagasan bagi mahasiswa.
Melalui tema “Seni sebagai Instrumen Jalan Juang dan Jalan Pulang”, BEM FIB UNKHAIR ingin menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam kehidupan kebudayaan, yakni membaca realitas secara kritis, merawat identitas, memproduksi pengetahuan, dan menghadirkan ekspresi sebagai bagian dari perubahan sosial.. (sah/red)


















