Nama Mc Artur Lexy Sumampow, mungkin tak asing di telinga banyak orang. Terutama kalangan Pejabat di Kabupten Halmahera Utara, khususnya para pekerja pers .
Wartawan senior yang bisa disapa Arter ini, telah melalui proses panjang sebelum akhirnya dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi Beritahalmahera. com saat ini.
Diam, tenang, dan rendah hati , itulah kesan pertama siapa pun yang berjumpa dengannya. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan ketajaman pikiran dan kepekaan yang luar biasa.
Karena kehandalannya dalam merancang strategi peliputan di lapangan, pria kelahiran 25 Mei 1979 inipun dijuluki “Jenderal Lapangan” oleh rekan-rekan sesama organisasi kewartawanan.
Sebuah gelar yang bukan sembarang panggilan, melainkan pengakuan atas kemampuannya mengatur arah liputan dengan cermat, cerdas, dan taktis.
Dari Penyiar Radio ke Jurnalis
Arther mengawali kariernya sebagai seorang penyiar Radio yang suaranya menghiasi gelombang radio setiap hari di era tahun 90- an.
Diantaranya, Radio Merdeka FM, Radio Wahana Palma, Radio Marahai, Radio SPB, Radio Shallom. Berbekal pengalaman di sejumlah Radio swasta, ia kemudian dipercaya mengelola stasiun radio milik Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, baik sebagai penyiar sekaligus pengelola devisi produksi iklan dan berita.
Di sana, ia mulai menempa kemampuannya berbicara, menulis, dan memahami selera publik. Fondasi yang kelak menjadi bekal berharga saat ia benar-benar terjun ke dunia pers.
Tahun 2003 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Tepat pada tahun itu, Kabupaten Halmahera Utara resmi dimekarkan menjadi daerah otonom baru (DOB) pada 31 Mei 2003.
Tepatnya pada 25 Me tahun 2003, lima hari sebelum pemerkaran kabupaten Halmahera Utara. Ini manjadi sebuah kebetulan yang menyatukan perjalanan hidupnya dengan kelahiran daerah tempatnya mengabdi hingga kini.
Di tahun yang sama, Arther resmi terjun ke dunia jurnalis. Langkah pertamanya dimulai di Tabloid Bintang Laut, media pertama di masa pasca konflik horizontal, yang dikelola oleh sebuah yayasan Katolik.
Di tengah luka pasca konflik yang belum sepenuhnya kering, ia memulai perjuangannya menyampaikan kebenaran melalui tulisan.
Bagi rekan-rekan wartawan, Arther bukan sekadar rekan sejawat. Ia adalah sosok yang tenang namun tegas, yang diam namun penuh gagasan.
“Menjadi jurnalis bukan sekadar melaporkan apa yang terlihat. Tapi memahami apa yang tersembunyi di balik peristiwa, lalu menyampaikannya dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab, “tuturnya saat bincang- bincang dengan Redaksi Klikfakta.id
Kesan 23 tahun bertugas sebagai jurnalis
Menjalankan profesi sebagai seorang jurnalis tentunya menjadi kesan tersendiri bagi dirinya.
Setiap hari berdiri di garis depan peristiwa. Melihat, mendengar, dan mencatat apa yang terjadi — bukan sekadar pekerjaan, melainkan kehormatan untuk menjadi saksi sejarah.
“Menyadari bahwa apa yang ditulis hari ini akan menjadi catatan masa depan, membuat setiap kata terasa berat dan berharga, “lanjutnya.
Belajar Memahami Manusia dari Berbagai Sisi
Bertemu pejabat, rakyat, petani, pelajar, tokoh agama, hingga mereka yang terpinggirkan, baginya mengajarkan kita untuk tidak menghakimi, tetapi memahami bahwa setiap peristiwa punya dua sisi, dan setiap orang punya ceritanya sendiri.
Baginya, menjadi jurnalis berarti belajar merangkul keberagaman, menyatukan pandangan yang berbeda, dan tetap berdiri di tengah-tengah.
Amanah yang Tak Pernah Ringan
Menururnya, setiap berita yang terbit adalah tanggung jawab. Nama baik seseorang, kehormatan sebuah lembaga, bahkan ketenangan masyarakat — bisa tergantung pada satu kalimat yang ditulis.
” Itulah beban sekaligus kehormatan: memegang kepercayaan publik, dan menjaganya dengan sepenuh hati, “tuturnya.
Berjuang Tanpa Henti demi Kebenaran
Baginya kebenaran sering kali tidak mudah didapat. Harus dicari, diperiksa, dibuktikan, dan dipertahankan. Namun itulah yang membuat profesi sebagai seorang jurnalis bermakna, ketika kebenaran akhirnya terungkap. Ketika suara yang tak terdengar akhirnya disampaikan, maka segala lelah dan hambatan terbayar lunas.
Hambatan yang sering dialami
Hambatan yang kerap dialami yakni akses Informasi yang Tertutup. Pintu yang tertutup, narasumber yang enggan berbicara, data yang disembunyikan, sering kali harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan fakta yang seharusnya menjadi milik publik.
” Diperlukan kesabaran, pendekatan, dan kepercayaan yang dibangun perlahan-lahan, ” bebernya.
Tekanan dan Ancaman
Tekanan untuk mengubah berita, ancaman agar tidak memuat sesuatu, atau upaya untuk membeli kebenaran, menururnya kerap datang dari berbagai arah.
Ujian terberat bukan di lapangan, melainkan ketika kebenaran dipertaruhkan dengan kepentingan.
Di sinilah keteguhan hati diuji: uang bisa ditolak, tetapi kebenaran tidak boleh dikhianati.
Keterbatasan Sarana dan Jarak yang Jauh
Jalan yang rusak, medan yang sulit, jarak tempuh berjam-jam ke pelosok desa, sinyal yang hilang di tengah hutan atau pegunungan.
” Di daerah seperti Halmahera Utara, perjalanan sendiri sering kali menjadi tantangan terbesar. Namun berita tidak menunggu, harus tetap sampai, seberat apa pun jalannya,” sambungnya.
Waktu yang Selalu Mengejar
Peristiwa terjadi kapan saja, di mana saja. Tidak kenal jam kerja, tidak kenal hari libur. Sementara orang lain beristirahat, jurnalis ujar Arter mungkin sedang di perjalanan, menulis, atau menunggu konfirmasi.
” Waktu adalah musuh sekaligus sahabat — harus cepat, tetapi tidak boleh salah.”imbuhnya.
Dipahami Secara Berlebihan atau Disalahpahami
Kadang dianggap terlalu kritis oleh pihak tertentu, kadang dianggap kurang tajam oleh pihak lain. Sering kali orang hanya melihat apa yang tertulis, tanpa memahami proses verifikasi, pengecekan, dan pertimbangan dibaliknya.
” Tetap berdiri di garis tengah, tidak memihak, tidak condong, adalah hal yang paling sulit sekaligus paling diperlukan, pesannya.
Bahan refleksi
Menjadi jurnalis lanjut Arter bukanlah pekerjaan yang mudah. Penuh rintangan, penuh ujian, penuh pengorbanan Namun di balik setiap hambatan, ada kepuasan yang tak ternilai.
” Ketika kebenaran terungkap, ketika suara rakyat didengar, dan ketika peristiwa tercatat sebagaimana adanya. Itulah harga yang harus dibayar, dan itulah kehormatan yang tak bisa ditukar dengan apa pun, ” pungkas Arter mengakhiri. *


















