Gabalil Hai Sua bukan sekadar seremoni adat yang dirayakan setiap waktu tertentu. Ia adalah jejak spiritual para leluhur, lahir dari niat yang bersih, diwariskan dengan penuh penghormatan, dan dijaga sebagai bagian dari jati diri budaya masyarakat.
Dalam setiap prosesi yang dijalankan, tersimpan nilai-nilai kesucian, kebersamaan, serta penghormatan terhadap warisan masa lalu.
Pada masa para leluhur, ritual Gabalil Hai Sua tidak pernah diperlombakan. Ia dilaksanakan dengan penuh khidmat, tanpa kompetisi, tanpa penilaian, dan tanpa kepentingan lain selain menjaga hubungan spiritual dan nilai adat.
Namun, realitas hari ini menunjukkan pergeseran yang cukup mengkhawatirkan.
Ritual yang sakral tersebut justru mulai dikemas dalam bentuk event, bahkan dijadikan ajang perlombaan yang sarat dengan kepentingan, termasuk kepentingan politik.
Perubahan ini bukan tanpa dampak. Ketika ritual dijadikan kompetisi, maka esensi kebersamaan berubah menjadi persaingan. Ketika kepentingan politik masuk, maka kesucian perlahan terkikis.
Tidak sedikit warga yang menilai bahwa kondisi ini seakan-akan menghilangkan nilai asli dari Gabalil Hai Sua, bahkan memunculkan keyakinan bahwa ketidakseimbangan yang terjadi adalah bentuk “kemurkaan leluhur” atas pergeseran makna tersebut.
Kekecewaan masyarakat pun semakin terasa, terutama terhadap panitia pelaksana Gabalil Hai Sua (GHS) yang dinilai tidak profesional.
Proses penilaian yang dianggap tidak objektif dan pembagian hadiah yang tidak transparan telah memicu polemik di tengah masyarakat.
Alih-alih memperkuat nilai budaya, pelaksanaan yang demikian justru menimbulkan kegaduhan dan perpecahan.
Situasi ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Ritual adat tidak boleh direduksi menjadi panggung kepentingan, apalagi dijadikan alat politik.
Jika hal ini terus dibiarkan, maka bukan hanya nilai yang hilang, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap tradisi itu sendiri.
Masyarakat sebagai pewaris tradisi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kemurnian Gabalil Hai Sua.
Di sisi lain, panitia dan pihak terkait harus mampu mengembalikan pelaksanaan ritual ini ke esensi awalnya sakral, murni, dan jauh dari kepentingan sesaat. Profesionalisme, transparansi, dan penghormatan terhadap nilai adat harus menjadi dasar utama dalam setiap penyelenggaraan.
Menjaga Gabalil Hai Sua tetap pada jalurnya adalah bentuk penghormatan kepada leluhur dan warisan budaya.
Jangan sampai tradisi yang diwariskan dengan penuh kesucian justru kehilangan makna karena ambisi dan kepentingan yang tidak pada tempatnya.
Sebab ketika nilai telah hilang, yang tersisa hanyalah keramaian tanpa makna, dan tradisi yang kehilangan ruhnya.*














