Klikfakta.id, HALTIM – Ekstrem hujan deras dengan intensitas ekstrem yang mengguyur Kawasan Industri Desa Buli, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, pada 2 Mei 2026 lalu.
Hujan deras tersebut memicu erosi lereng dan sedimentasi di sejumlah titik, termasuk area muara Kukuba dan Koropon. Dalam hitungan jam, PT. Feni Haltim (FHT) merespons dengan mobilisasi total sumber daya, bukan diam.
Pasalnya sejak 3 Mei, perusahaan minta semua subkontraktor untuk menghentikan aktivitas konstruksi dan mengerahkan semua personel serta alat berat ke titik-titik terdampak.
Bukan sekadar pembersihan, tapi perusahaan langsung mengambil langkah teknis terukur: pemasangan geotekstil di area RKEF Selatan (7.600 m²) dan Koropon (5.000 m²).
PT. FHT langsung melakukan stabilisasi lereng, pemasangan silt curtain di area jetty untuk menahan penyebaran sedimen, serta pembersihan drainase secara rutin.
Perwakilan menejemen PT. FHT mengatakan bahwa pihaknya tidak menunggu, begitu insiden terjadi seluruh tim HSE dan kontruksi langsung turun ke lapangan.
”Kami berkoordinasi dengan DLH Halmahera Timur, DLH Provinsi Maluku Utara, dan Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Wilayah Sulawesi dan Maluku secara transparan,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Yang patut dicatat, selain penanganan jangka pendek, PT FHT telah menyusun rencana jangka menengah dan jangka panjang: penyedotan sedimen menggunakan sistem geotube di Muara Sungai Kukuba,serta penambahan kapasitas drainase dan kolam sedimen.
Tindakan ini tentu dapat menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekedar melakukan tindakan tanggap darurat insiden lingkungan, melainkan membangun sistem yang lebih baik kedepan.
“Langkah cepat, terukur, dan transparan ini patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan yang serius terhadap lingkungan. Silt curtain,” pungkasnya.(sah/red)














