banner 468x60 banner 468x60

Pendidikan dan Fondasi Peradaban yang Berkeadilan: Antara Retorika dan Realita

Oleh : Saha M. Buamona, Pemerhati Pendidikan dan Keadilan 

Saha M. Buamona, Pemerhati Pendidikan dan Keadilan

Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional kembali mengingatkan kita pada satu hal yang paling mendasar: pendidikan adalah fondasi utama peradaban.

Ia bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan jalan panjang untuk membentuk manusia yang berakal, beretika, dan berkeadilan.

Namun, di tengah-tengah gegap gempita pidato dan slogan, menjadi pertanyaan penting: bahwa sudah sejauh mana pendidikan di negeri kita ini benar-benar menjadi alat untuk pembebasan dan keadilan sosial, bukan hanya untuk sekadar retorika kosong?

Realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang yang cukup lebar antara cita-cita dan pelaksanaan. Akses pendidikan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas.

Di wilayah perkotaan, sekolah dengan fasilitas lengkap dan tenaga pendidik berkualitas relatif mudah ditemukan.

Akan tetapi menjadi sebaliknya, sebab di daerah daerah terpencil, masih banyak sekolah dengan kondisi memprihatinkan: ruang belajar yang rusak, keterbatasan buku, hingga minimnya tenaga pengajar.

Ketimpangan ini bukan hanya sekadar soal infrastruktur, tetapi juga untuk soal keadilan. Pendidikan yang idealnya menjadi alat mobilitas sosial justru berpotensi memperkuat kesenjangan.

Anak-anak dari keluarga mampu memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pendidikan berkualitas, sementara mereka yang berasal dari kelompok rentan harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan hak dasar tersebut.

Di sisi lain, kurikulum pendidikan sering kali masih terjebak pada pendekatan yang kaku dan berorientasi pada angka. Nilai akademik menjadi tolok ukur utama, sementara pembentukan karakter, daya kritis, dan kepekaan sosial belum mendapat porsi yang seimbang.

Padahal, peradaban yang berkeadilan tidak hanya membutuhkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan kesadaran yang kolektif.

Ironisnya, narasi besar tentang “pendidikan sebagai jalan menuju keadilan” kerap menjadi jargon politik yang diulang-ulang tanpa disertai komitmen yang pernah tersampaikan itu dengan nyata.

Anggaran pendidikan yang besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas dan pemerataan. Kebijakan sering berganti, tetapi arah besar pembangunan pendidikan kerap kehilangan konsistensi.

Di titik inilah kita perlu jujur: membangun pendidikan sebagai fondasi peradaban yang berkeadilan tidak bisa berhenti pada retorika. Ia membutuhkan keberanian untuk melakukan pembenahan secara struktural.

Pemerataan akses harus menjadi prioritas utama, diikuti dengan peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Tanpa guru yang sejahtera dan kompeten, sulit untuk kita membayangkan lahirnya generasi unggul.

Lebih dari itu, pendidikan harus diarahkan untuk membangun kesadaran kritis. Peserta didik tidak cukup hanya diajarkan untuk menghafal, tetapi juga harus didorong untuk bertanya, memahami realitas sosial, dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Sebab pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang merdeka, bukan hanya dalam berpikir, tetapi juga dalam bertindak.

Peradaban yang berkeadilan tidak lahir dari kemewahan teknologi semata, melainkan dari kualitas manusianya. Dan kualitas manusia ditentukan oleh pendidikan yang ia terima. Jika pendidikan masih timpang, maka keadilan hanya akan menjadi wacana yang jauh dari kenyataan.

Akhirnya, momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi titik refleksi bersama: apakah pendidikan kita sudah benar-benar menjadi jalan menuju keadilan, atau masih terjebak dalam lingkaran retorika?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah masa depan bangsa, apakah kita sudah benar-benar sedang membangun peradaban, atau sekadar membangun ilusi tentangnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page