banner 468x60 banner 468x60

Gandeng S.L Benfica, Malut United Bangun Sepak Bola Anak  Yatim dan Kurang Mampu di Maluku Utara 

Direktur PT Malut Sejahtera, Dirk Soplanit, Benfica International Business Manager Lourenco Figueiredo dan Benfica International Technical Coordinator, Davide Manuel saat konferensi pers (Foto Saha Buamona/Klikfakta.id)

Klikfakta.id, TERNATE — Dalam rangka untuk manunjukkan komitmen dalam pembangunan sepak bola, Malut United tidak hanya fokus tim senior yang saat ini berkompetisi di BRI Super League, tapi menggelar aksi sosial di Maluku Utara. 

Club yang berjuluk Laskar Kie Raha itu mulai membangun fondasi dengan membentuk pembinaan pada anak di usia dini guna untuk melahirkan pemain-pemain yang potensial dari Indonesia Timur.

Program pembinaan tersebut diprioritaskan untuk anak yatim, piatu, serta anak-anak dari keluarga kurang mampu yang terdapat di tiga wilayah Indonesia Timur, yakni Maluku Utara, Maluku, dan Papua.

Sebagai bagian dari jangka panjang, Malut United bekerja sama dengan akademi sepak bola internasional asal Portugal, S.L. Benfica, untuk pengembangan kepelatihan, pendidikan olahraga, hingga karakter pemain usia dini.

Direktur PT Malut Sejahtera, Dirk Soplanit, dalam konferensi pers bersama perwakilan S.L. Benfica pada Jumat (15/5/2026) mengatakan, gagasan owner klub bukan hanya menghadirkan hiburan melalui sepak bola, tetapi mengangkat martabat anak yatim piatu dan keluarga kurang mampu.

Menurut Dirk, akademi tersebut dirancang sebagai proyek jangka panjang untuk mencetak pemain yang profesional, serta memiliki kedisiplinan, berakhlak baik, dan semangat kebhinekaan.

“Akademi ini bukan hanya bicara sepak bola, tetapi bagaimana kita membentuk generasi muda di Maluku Utara yang memiliki moral dan karakter yang baik,” ujarnya.

Akademi merekrut anak usia 7 hingga 9 tahun dengan kuota awal sebanyak 70 peserta setiap tahun, jumlah tersebut, 45 anak dari muslim dan 25 anak nasrani, yang dibina secara terpusat melalui sistem pendidikan dengan pelatihan terpadu.

Selain pembinaan teknik sepak bola, peserta juga akan mendapatkan pendidikan karakter, moral, dan keagamaan. 

Anak-anak muslim akan dibina melalui sistem pendidikan pesantren dengan penguatan akhlak dan pembelajaran Al-Qur’an, sebaliknya dengan non muslim mendapatkan pembinaan nilai-nilai agama dan moral sebagai fondasi kehidupan.

“Mereka digodok untuk menjadi pemain handal sekaligus moral dan disiplin mereka yang baik. Jadi bukan hanya menjadi pemain sepak bola, akan tetapi harus jadi manusia yang berakhlak,” katanya.

Program pendidikan akademi yang dibentuk itu nantinya juga akan bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku Utara dan Dinas Pendidikan setempat. 

Seluruh peserta tetap memperoleh pendidikan formal sehingga rapor sekolah mereka tetap dapat diterbitkan nilai melalui sekolah asal masing-masing.

Selain pendidikan umum dan agama, akademi juga akan memberikan pelajaran bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. 

Sebab manajemen juga menyiapkan tenaga pengajar dari Pulau Jawa yang berpengalaman dalam pengelolaan pesantren dan pendidikan karakter.

Dirk menegaskan tujuan utama program ini bukan semata-mata untuk menjadikan seluruh peserta sebagai pemain Malut United, tetapi memberikan kesempatan kepada anak-anak memperbaiki kehidupan keluarga melalui sepak bola yang profesional.

“Tidak selamanya harus bergabung ke Malut United. Tapi yang terpaling penting adalah mereka bisa sukses dan mengangkat derajat keluarganya,” jelasnya.

Dalam proses seleksi pemain, manajemen akan bekerja sama dengan Asosiasi Provinsi PSSI Maluku Utara agar perekrutan berjalan objektif dan tepat sasaran, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Untuk wilayah Papua, manajemen bersama S.L. Benfica akan melakukan pencarian bakat secara langsung ke daerah-daerah guna menemukan pemain yang potensial dan dipusatkan dalam training camp Malut United.

Dirk juga menjelaskan alasan penggunaan nama “Merah Putih” pada akademi tersebut.

“Merah Putih adalah simbol Indonesia. Ini sesuai harapan owner agar tidak ada sekat diantara anak-anak muslim maupun non muslim saat menjalani pembinaan. Mereka tetap berbaur tanpa perbedaan,” bebernya.

Sementara itu, Benfica International Business Manager, Lourenco Figueiredo, mengatakan pihaknya akan membawa filosofi sepak bola khas Portugal ke Maluku Utara melalui kerja sama ini. 

Sebab menurutnya, S.L. Benfica sudah miliki banyak pengalaman panjang membangun akademi sepak bola yang melahirkan banyak pemain profesional dunia.

“Kani akan membawa filosofi bermain sepak bola untuk membantu Malut United menjadi tim terbaik dan melahirkan pemain handal yang berpotensial,” ujar Lourenco.

Ia bersama Benfica International Technical Coordinator, Davide Manuel, menambahkan bahwa pembinaan anak melalui olahraga telah menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi muda di Portugal.

Program ini dirancang untuk pembinaan jangka panjang dengan target lima hingga sepuluh tahun ke depan itu mampu melahirkan pemain terbaik dari kawasan timur Indonesia yang dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional.

Dengan konsep pembinaan terpadu berbasis olahraga, pendidikan, dan moral, Akademi Merah Putih diharapkan menjadi salah satu proyek pengembangan sepak bola terbesar di Indonesia Timur sekaligus membuka jalan bagi anak-anak berbakat dari keluarga sederhana untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui sepak bola.(sah/red)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page