Klikfakta. id, TERNATE– Balai Wilayah Sungai( BWS) Maluku Utara, angkat bicara terkait pelaksanaan proyek pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi di Tilope, Kecamatan Weda Selatan, Kabupaten Halmahera Tengah.
Direksi Pekerjaan Tahap III Pembangunan dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Tilope, Sudirman Taib kepada awak media mengaku, terkait persoalan sengketa lahan dengan masyarakat sudah dituntaskan lebih dulu sebelum proyek dijalankan.
Bahkan, pihak pertanahan turut serta melakukan pengukuran atas lahan tersebut.
“Soal lahan itu sudah dibebaskan, diselesaikan dan pembayarannya langsung ke rekening masyarakat. Sebelum pelaksanaan proyek sudah disosialisasikan ke perangkat desa maupun kelompok tani,”jelasnya, Senin (8/2/2026).
“Sebelumnya lahan ini juga diukur oleh Dinas Pertanahan Kabupaten Halteng, setelah itu dibuat appraisal penentuan nilai harga tanah berdasarkan harga pasar atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Yang pertama terbayarkan 60 orang, di dalamnya ada 11 bidang karena mereka memiliki sertifikat.”tambahnya.
Terkait keterlambatan kerja, Sudirman tak menampik. Meski begitu, pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
“Saluran air berada di tengah-tengah proyek yang artinya tidak di hulu dan hilir, sementara masyarakat butuh air sehingga kerja dipindahkan. Di tambah lagi ada dua versi masyarakat yakni pemilik lahan dan penggarap, inilah kemudian membuat pekerjaan sedikit terlambat. Pekerjaan sudah selesai 100 persen, dan ini bagian dari tambah yang dikomplain itu.”ujarnya.
Sementara terkait material proyek, Sudirman mengatakan sudah sesuai RAB dan melalui uji laboratorium.
“Jadi material yang dipakai itu sudah sesuai dengan RAB. Untuk batu kali memang di sana susah, rata-rata proyek di kota Weda saja gunakan batu rijang (batu api) dan batu belah. Kami punya hasil laboratorium dan layak dipakai.”terangnya
Pada soal ini, juga diperiksa BPK RI, dan tidak ditemukan adanya adalah pada proyek tersebut.
“Sudah diperiksa BPK RI dan tidak ada temuan. Material yang sesuai hasil laboratorium itu juga diperiksa, ” lanjutnya.
Begitu juga skandal proyek yang melibatkan Kepala BWS Maluku Utara. Tidak ada kaitannya dengan kerabat dekat di dalamnya atas proyek ini.
“Betul saya selaku direksi di sana, tapi perlu diketahui sebelum Kepala BWS baru ini menjabat saya sudah diposisi ini sejak 2024. Jadi ketika proyek ini berjalan di pertengahan baru beliau menjabat.”pungkasnya (tim/red)














