Klikfakta.id,HALUT-Ketua Geraran Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Halmahera Utara, Sandris Kitong, akhirnya angkat bicara terkait polemik percakapan di grup WhatsApp internal yang sempat beredar luas dan memicu reaksi publik.
Klarifikasi disampaikan langsung dalam siaran pers di Polres Halmahera Utara, sekaligus menegaskan komitmennya menjaga keharmonisan antar pemuda lintas agama.
Dalam keterangannya, Sandris menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Maluku Utara, khususnya di Halmahera Utara, yang merasa tersinggung atas potongan percakapan yang beredar.
āSaya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang merasa terluka. Perlu saya jelaskan bahwa percakapan yang beredar itu tidak utuh dan telah dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman,ā ujarnya.
Ia menegaskan bahwa isi percakapan tersebut tidak mencerminkan maksud sebenarnya, karena ada bagian sebelumnya yang tidak ikut tersebar.
Menurutnya, potongan pesan tersebut justru memicu persepsi yang keliru dan provokatif di tengah masyarakat.
Sandris juga menjelaskan bahwa pada saat percakapan itu beredar, dirinya tidak secara langsung memantau karena sedang fokus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk membangun komunikasi lintas pemuda.
Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan telah membentuk aliansi pemuda lintas agama sebagai langkah konkret menjaga keharmonisan di Halmahera Utara.
Aliansi tersebut bertujuan menjadi ruang bersama bagi pemuda untuk berdialog, merawat persatuan, serta menjaga stabilitas daerah.
āSaya ingin bagaimana kita bisa hidup rukun dalam satu bingkai kebersamaan. Karena itu, saya berinisiatif membangun komunikasi dengan saudara-saudara pemuda Muslim agar kita bisa duduk bersama,ā katanya.
Upaya tersebut membuahkan hasil dengan terlaksananya pertemuan antara pemuda Kristen dan Muslim di salah satu ruang publik di Halmahera Utara. Pertemuan itu difasilitasi oleh para pemuda dan berlangsung dalam suasana penuh keakraban.
āPuji Tuhan, Alhamdulillah, pertemuan itu bisa terjadi. Kita bisa duduk bersama, membahas berbagai hal, dan sepakat untuk menjaga perdamaian, keutuhan, serta keseimbangan di daerah ini,ā ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan aliansi Pemuda Pemerhati Halmahera Utara diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas iman dalam merespons berbagai isu sosial, tanpa terjebak pada perpecahan.
āSaya yang menggagas pertemuan antara pemuda Kristen dan Muslim, dan itu berhasil. Tidak mungkin dalam waktu sekejap justru saya sendiri yang merusak apa yang sudah dibangun,ā tegas Sandris.
Terkait pernyataan yang dinilai menyinggung kegiatan bedah buku yang diprakarsai Wakil Bupati, Sandris meluruskan bahwa ucapannya tidak ditujukan kepada Wakil Bupati, melainkan kepada Sekretaris GMKI Halut, Yosafat Kotalaha.
Ia menjelaskan, saat itu pihaknya telah sepakat menggelar pertemuan antara pemuda Kristen dan Muslim. Namun, yang bersangkutan justru menghadiri kegiatan lain, sehingga memicu kekecewaannya.
āPernyataan yang terkesan melarang mengikuti kegiatan Wakil Bupati itu sebenarnya ditujukan kepada Sekretaris GMKI karena rasa kesal, bukan kepada Wakil Bupati,ā jelasnya.
Sandris juga menambahkan bahwa selain Sekretaris, terdapat salah satu anggota GMKI Halut yang turut terlibat dalam dinamika internal tersebut, sehingga percakapan di grup menjadi berkembang dan disalahartikan ketika tersebar ke publik.
Politisi Partai Demokrat ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu utuh kebenarannya.
āKita harus bijak dalam menerima informasi. Jangan sampai potongan-potongan yang tidak lengkap justru memecah belah kita,ā tegasnya. (Sem/red)













