banner 468x60 banner 468x60

SPPG Yayasan Maria Van Deyken Soenpiet Diduga Manipulasi Data Penerima Manfaat MBG

Dapur SPPG Yayasan Maria Van Deyken Soenpiet jln Hein Namotemo Desa Gamsungi Kecamatan Tobelo Halmahera Utara (Foto: Semuel Klkfakta.id)

Klikfakta.id, HALUT – Dugaan praktik penggelembungan data penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuat di Kabupaten Halmahera Utara. Temuan ini diduga terjadi dalam proses distribusi makanan gratis oleh SPPG Yayasan Maria Van Deyken Soenpiet.

Dugaan tersebut muncul setelah ditemukan adanya ketidaksesuaian antara jumlah penerima manfaat di lapangan dengan data serah terima makanan atau ompreng yang dilaporkan.

Berdasarkan hasil penelusuran, jumlah siswa penerima manfaat diketahui mengalami penurunan lantaran sebagian peserta didik tengah menjalani masa libur ujian. Namun, jumlah penerima dalam dokumen distribusi disebut tetap sama seperti hari normal.

Salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan praktik tersebut diduga bukan pertama kali terjadi.

“Sekarang ini siswa kelas satu sampai kelas lima libur karena kelas enam menghadapi ujian. Otomatis jumlah penerima manfaat berkurang, tapi jumlah dalam data serah terima tidak berubah,” ungkap sumber, Kamis (7/5/2026).

Meski tidak merinci total selisih distribusi MBG yang tercatat dalam daftar, sumber menyebut terdapat perbedaan jumlah penerima manfaat yang cukup signifikan.

Menurutnya kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu. Persoalan tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait sistem pengawasan pelaksanaan program MBG di lapangan.

“Jika data penerima manfaat tidak diverifikasi secara ketat, maka potensi manipulasi jumlah distribusi sangat mungkin terjadi. Selain itu, mekanisme kontrol antara jumlah makanan yang diproduksi, didistribusikan hingga diterima siswa dinilai perlu diperketat agar program yang menggunakan anggaran negara itu benar-benar tepat sasaran,” katanya.

Ia juga  menambahkan, pengawasan dari pihak sekolah, pemerintah daerah hingga instansi teknis terkait juga dianggap penting guna memastikan tidak ada celah penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG.

Menyikapi masalah tersebut, pemilik SPPG Yayasan Maria Van Deyken Soenpiet Stewart Soenpiet, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, mengaku tidak mengetahui dugaan tersebut. Ia menyarankan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada pihak pengawas dapur MBG miliknya.

“Saya kurang tahu, nanti tanyakan ke dapur bagian pengawas,” ujar Stewart melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG Yayasan Maria Van Deyken Soenpiet ketika diwawancarai di kantornya mengakui adanya perbedaan jumlah distribusi. Namun, dirinya  membantah hal tersebut sebagai bentuk manipulasi data. Menurut dia, jumlah dari sisa ompreng dialokasikan ke sekolah lain yang belum masuk daftar penerima tetap MBG.

“Contohnya jumlah siswa 85. Data itu kami ambil satu minggu sebelum pendistribusian. Sebagai asisten lapangan saya selalu meminta laporan jumlah ompreng di grup. Kalau tidak ada tanggapan, distribusi tetap dilakukan sesuai jumlah awal, yakni 85 ompreng,” jelasnya.

Ia mengatakan, setelah proses distribusi berjalan, pihak sekolah baru memberikan informasi bahwa jumlah siswa yang menerima hanya sekitar 20 orang karena sebagian sedang libur ujian.

“Padahal bahan makanan sudah dipesan untuk 80 lebih ompreng. Jadi laporan tetap sesuai jumlah awal, sementara sisanya kami alokasikan ke sekolah lain yang belum tersentuh program MBG,” tambahnya.(Sem/red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page